10.47313 EXPLORING CULTURAL IDENTITY AND HUMOR IN THE SURABAYAN DIALET: A SEMIOTIC OERSPECTIVE
EXPLORING CULTURAL IDENTITY AND HUMOR IN THE SURABAYAN DIALET: A SEMIOTIC OERSPECTIVE
DOI:
https://doi.org/10.47313/aksarabaca.v4i2.4304Abstract
Dialek khas Jawa yang dikenal sebagai Bahasa Jawa Surabaya (juga disebut “Basa Suroboyoan”) yang dituturkan
terutama di Surabaya, Jawa Timur, merupakan sistem tanda budaya yang dinamis yang berperan penting dalam
mengekspresikan identitas, humor, dan interaksi sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan
mendasar mengenai Bahasa Jawa Surabaya sebagai sistem semiotika budaya, perannya dalam mengekspresikan
identitas, pentingnya humor dalam interaksi sosial, dan bagaimana Bahasa Jawa Surabaya digunakan dalam
hubungan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berfokus pada analisis semiotika untuk
mengamati identitas budaya dan humor Jawa Surabaya. Penelitian yang dipandu analisis interpretatif ini melihat
bagaimana bahasa, identitas, dan humor saling mendukung dalam kelompok linguistik ini. Dengan menganalisis
ungkapan seperti “Cak” berasal dari “Cacak” (abang atau laki-laki) and Ning (perempuan); “tetek mbengek”
(semuanya tanpa kecuali) dan “sak taek dayak” (secara humor menunjukkan kelimpahan), penelitian ini menyoroti
kreativitas linguistik yang tertanam dalam ungkapan-ungkapan ini dan implikasi budayanya.Kerangka teori model
diadik Saussure dan model triadik Peirce memberikan cara untuk membedah ungkapan-ungkapan ini, membuktikan
bagaimana makna ungkapan tidak seperti yang ditafsirkan dan dipahami secara harafiah. Selain itu, perspektif
etnolinguistik Philip Riley dan konsep komunitas terbayangkan Benedict Anderson yang menekankan bagaimana
istilah-istilah dalam Bahasa Jawa Surabaya seperti “iwak” (lauk) dan “embong” (jalan raya) menumbuhkan jati diri
di antara para penuturnya. Topik humor memunculkan sejumlah pertanyaan menarik yang relevan dengan semua
bidang psikologi. Pernyataan seperti “njekethek,” yang berarti “sesuatu yang sepele,” menunjukkan
kejenakaan.Penelitian ini menggabungkan analisis tekstual, wawancara, perspektif etnolinguistik, dan ‘logika’ dari
“Komunitas Terbayangkan” untuk memahami konteks sosial budaya dari ungkapan-ungkapan tersebut. Temuan
dalam penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada studi semiotika dan sosiolinguistik, tetapi juga mendukung
pelestarian dialek-dialek daerah sebagai warisan budaya yang penting. Dengan mempelajari dan menganalisis
ungkapan-ungkapan Bahasa Jawa Surabaya, penelitian ini bertujuan untuk mengangkat dan melestarikan kekayaan
linguistik salah satu dialek daerah yang paling khas di Indonesia.
Kata Kunci: Dialek Surabaya, Semiotika, Identitas Budaya, Humor dan Bahasa
The distinctive Javanese dialect known as Surabayan Javanese (also called “Basa Suroboyoan”) which is spoken
primarily in Surabaya, East Java, is a dynamic cultural sign system that plays a significant role in expressing identity,
humor, and social interactions. The study’s objective is to answer fundamental issues about Surabayan Javanese as
a cultural semiotic system, its role in expressing identity, the significance of humor in social interactions, and how it
is used to convey social relationships. This study uses a qualitative method with a focus on semiotic analysis to
investigate the cultural identity and humor of Surabayan Javanese. The study, guided by interpretive analysis, looks
into how language, identity, and humor interact within this linguistic group. By analyzing expressions such as “Cak”
derived from “Cacak” (masculine familiarity) and “Ning” (feminine respectability); “tetek mbengek” (everything
without exception) and “sak taek Dayak” (humorously denoting abundance), this research highlights the linguistic
creativity embedded in these expressions and their cultural implications.Theoretical frameworks from Saussure’s
dyadic model and Peirce’s triadic model provide tools to dissect these idioms, revealing how their meanings extend
far beyond literal interpretations. Additionally, Philip Riley’s ethnolinguistic perspective and Benedict Anderson’s concept of imagined communities underscore how Surabayan terms like iwak (side dish) and embong (main road)
foster a shared sense of identity among speakers. The topic of humor raises a host of intriguing questions of relevance
to all areas of psychology. Statements such as “njekethek,” which means “something trivial,” indicates humorous
element.This research combines textual analysis, interviews, ethnolinguistic perspective, and the ‘logic’ of “Imagined
Communities” to understand the socio-cultural contexts of these expressions. The findings not only contribute to
semiotic and sociolinguistic studies but also advocate for the preservation of regional dialects as vital cultural
heritage. By studying and analyzing Surabayan’s idioms, this research aims to promote and preserve the linguistic
richness of one of Indonesia’s most distinctive regional dialects.
Key Words: Surabayan dialect, Semiotics, Cultural Identity, Humor and Language