10.47313 LARANGAN HALUS DALAM BAHASA KOREA: ANALISIS PRAGMATIS - (EU) L SU EOPTTA [-(으)ㄹ 수 없다]

LARANGAN HALUS DALAM BAHASA KOREA: ANALISIS PRAGMATIS - (EU) L SU EOPTTA [-(으)ㄹ 수 없다]

Authors

  • Fitri Progrram Studi Bahasa Korea, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Nasional, Jakarta
  • Rura Progrram Studi Bahasa Korea, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Nasional, Jakarta
  • Faisal )Progrram Studi Bahasa Korea, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Nasional, Jakarta
  • Lina Progrram Studi Bahasa Korea, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Nasional, Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.47313/aksarabaca.v7i1.4327

Abstract

Penelitian ini mengkaji fungsi pragmatis konstruksi (eu)l su eoptta [-(으)ㄹ 수 없다] dalam bahasa Korea yang secara
semantis dikenal sebagai penanda ketidakmampuan atau ketidakmungkinan. Berangkat dari fenomena kesantunan
dalam budaya Korea, penelitian ini menunjukkan bahwa konstruksi tersebut tidak hanya bermakna literal, tetapi juga
berfungsi sebagai strategi larangan halus (soft prohibition). Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif
kualitatif melalui analisis dialog autentik dari dua film Korea, 20th Century Girl (2022) dan Dream (2023). Data
dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan kerangka teori pragmatik Brown & Levinson,
Prinsip Kesantunan Leech, serta konsep pragmatic ambiguity dari Thomas. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa
bentuk (eu)l su eoptta muncul baik sebagai penanda ketidakmungkinan literal maupun sebagai larangan tidak langsung
yang memitigasi ancaman muka dalam interaksi. Terdapat tiga pola utama penggunaan larangan halus, yaitu larangan
berbasis aturan, larangan berbasis situasi atau kondisi, dan larangan preventif. Temuan ini menunjukkan perluasan
fungsi pragmatis konstruksi negatif dalam bahasa Korea serta relevansinya dalam menjaga kesantunan dan
keharmonisan interpersonal. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan mengungkap fungsi larangan halus
pada bentuk (eu)l su eoptta yang sebelumnya belum banyak dibahas. Selain itu, penelitian ini memiliki implikasi
pedagogis bagi pengajaran bahasa Korea sebagai bahasa asing, khususnya dalam meningkatkan kompetensi pragmatik
pemelajar agar mampu memahami larangan tidak langsung dalam komunikasi nyata.
kata kunci: (eu)l su eoptta [-(으)ㄹ 수 없다], pragmatis

This study examines the pragmatic function of the Korean construction (eu)l su eoptta [-(으)ㄹ 수 없다], which is
semantically known as a marker of inability or impossibility. Based on the phenomenon of politeness in Korean culture,
this study shows that this construction not only has a literal meaning but also functions as a soft prohibition strategy.
The study was conducted using a qualitative descriptive approach through the analysis of authentic dialogues from
two Korean films, 20th Century Girl (2022) and Dream (2023). Data were collected using documentation techniques
and analyzed using Brown & Levinson's pragmatic theoretical framework, Leech's Principle of Politeness, and
Thomas's concept of pragmatic ambiguity. The results show that the form (eu)l su eoptta appears both as a marker of
literal impossibility and as an indirect prohibition that mitigates face threats in interactions. There are three main
patterns of the use of soft prohibitions, namely rule-based prohibitions, situation-based prohibitions, and preventive
prohibitions. These findings demonstrate the expanded pragmatic function of negative constructions in Korean and
their relevance in maintaining politeness and interpersonal harmony. This study makes a theoretical contribution by
revealing the subtle prohibition function of the previously under-discussed form (eu)l su eoptta. Furthermore, this
study has pedagogical implications for teaching Korean as a foreign language, particularly in improving learners'
pragmatic competence so they can understand indirect prohibitions in real-life communication.
Keywords: (eu)l su eoptta [-(으)ㄹ 수 없다], pragmatic

Downloads

Published

2025-12-23