https://journal.unas.ac.id/aksarabaca/issue/feedAKSARABACA Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya2025-12-23T05:43:00+07:00SOMADI SOSROHADIsomadi_sosrohadi@yahoo.co.idOpen Journal Systems<p>AKSARABACA Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Jurnal ini memuat informasi mengenai Bahasa, Sastra, dan Budaya dalam bentuk artikel, tulisan ilmiah, ulasan, penelitian, pengajaran di Universitas Nasional dan hasil-hasil penelitian dari sumber lain. Jurnal ini terbit berkala dua (2) kali dalam setahun (April dan Oktober).</p>https://journal.unas.ac.id/aksarabaca/article/view/432710.47313 LARANGAN HALUS DALAM BAHASA KOREA: ANALISIS PRAGMATIS - (EU) L SU EOPTTA [-(으)ㄹ 수 없다] 2025-12-15T21:39:19+07:00Fitri Meuutiamutia_mutia83@yahoo.comRurani Adindaruraula@gmail.comRahmad Faisalmutia_mutia83@yahoo.comLina Adindamutia_mutia83@yahoo.com<p>Penelitian ini mengkaji fungsi pragmatis konstruksi (eu)l su eoptta [-(으)ㄹ 수 없다] dalam bahasa Korea yang secara <br>semantis dikenal sebagai penanda ketidakmampuan atau ketidakmungkinan. Berangkat dari fenomena kesantunan <br>dalam budaya Korea, penelitian ini menunjukkan bahwa konstruksi tersebut tidak hanya bermakna literal, tetapi juga <br>berfungsi sebagai strategi larangan halus (soft prohibition). Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif <br>kualitatif melalui analisis dialog autentik dari dua film Korea, 20th Century Girl (2022) dan Dream (2023). Data <br>dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan kerangka teori pragmatik Brown & Levinson, <br>Prinsip Kesantunan Leech, serta konsep pragmatic ambiguity dari Thomas. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa <br>bentuk (eu)l su eoptta muncul baik sebagai penanda ketidakmungkinan literal maupun sebagai larangan tidak langsung <br>yang memitigasi ancaman muka dalam interaksi. Terdapat tiga pola utama penggunaan larangan halus, yaitu larangan <br>berbasis aturan, larangan berbasis situasi atau kondisi, dan larangan preventif. Temuan ini menunjukkan perluasan <br>fungsi pragmatis konstruksi negatif dalam bahasa Korea serta relevansinya dalam menjaga kesantunan dan <br>keharmonisan interpersonal. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan mengungkap fungsi larangan halus <br>pada bentuk (eu)l su eoptta yang sebelumnya belum banyak dibahas. Selain itu, penelitian ini memiliki implikasi <br>pedagogis bagi pengajaran bahasa Korea sebagai bahasa asing, khususnya dalam meningkatkan kompetensi pragmatik <br>pemelajar agar mampu memahami larangan tidak langsung dalam komunikasi nyata. <br>kata kunci: (eu)l su eoptta [-(으)ㄹ 수 없다], pragmatis</p> <p>This study examines the pragmatic function of the Korean construction (eu)l su eoptta [-(으)ㄹ 수 없다], which is <br>semantically known as a marker of inability or impossibility. Based on the phenomenon of politeness in Korean culture, <br>this study shows that this construction not only has a literal meaning but also functions as a soft prohibition strategy. <br>The study was conducted using a qualitative descriptive approach through the analysis of authentic dialogues from <br>two Korean films, 20th Century Girl (2022) and Dream (2023). Data were collected using documentation techniques <br>and analyzed using Brown & Levinson's pragmatic theoretical framework, Leech's Principle of Politeness, and <br>Thomas's concept of pragmatic ambiguity. The results show that the form (eu)l su eoptta appears both as a marker of <br>literal impossibility and as an indirect prohibition that mitigates face threats in interactions. There are three main <br>patterns of the use of soft prohibitions, namely rule-based prohibitions, situation-based prohibitions, and preventive <br>prohibitions. These findings demonstrate the expanded pragmatic function of negative constructions in Korean and <br>their relevance in maintaining politeness and interpersonal harmony. This study makes a theoretical contribution by <br>revealing the subtle prohibition function of the previously under-discussed form (eu)l su eoptta. Furthermore, this <br>study has pedagogical implications for teaching Korean as a foreign language, particularly in improving learners' <br>pragmatic competence so they can understand indirect prohibitions in real-life communication. <br>Keywords: (eu)l su eoptta [-(으)ㄹ 수 없다], pragmatic</p>2025-12-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 AKSARABACA Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budayahttps://journal.unas.ac.id/aksarabaca/article/view/432810.47313 MITOS PROFESI HAKIM DALAM DRAMA KOREA “THE DEVIL JUDGE” 2025-12-15T21:47:42+07:00Deti Nurjanahdetisitinurjanah@gmail.comBunga Syahfitribungaastyasyafitri@civitas.unas.ac.id<p>Drama Korea telah menjadi bagian dari rutinitas kehidupan global. Salah satu tren terbaru yang semakin populer <br>adalah drama bertema hukum yang menggambarkan profesi hakim. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi <br>jenis-jenis tanda yang digunakan sebagai representasi simbolis serta memahami makna denotasi, konotasi, dan mitos <br>dalam drama Korea The Devil Judge. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif <br>dan menerapkan teori semiotika Roland Barthes. Drama ini mencakup lapisan-lapisan simbolisme yang <br>menggambarkan mitos seputar profesi hakim, termasuk karakteristik, tanggung jawab, dan peran mereka dalam <br>masyarakat, mencakup ekspektasi sosial, citra yang terbentuk, serta ekspektasi moral dan etis yang melekat. Hasil <br>penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol seperti media, ruang kerja, jubah hakim, palu hakim, timbangan, buku, <br>rumah, hakim perempuan, ruang sidang, jaksa dan hakim, hakim yang adil, makanan, dan sumpah hakim memainkan <br>peran penting dalam mewakili profesi hakim. Selain itu, mitos yang digambarkan dalam drama ini menggambarkan <br>hakim sebagai individu yang memiliki kekuasaan dan otoritas, bertanggung jawab atas kesejahteraan sosial, figur <br>yang dihormati dan mulia, pemimpin bijaksana dalam penegakan hukum, mediator dalam konflik, penjaga keadilan <br>sosial, dan pengambil keputusan. Simbol-simbol dan mitos ini memperkuat pesan dalam drama Korea The Devil <br>Judge mengenai profesi hakim, sehingga mempengaruhi persepsi publik. <br>Kata kunci: Semiotika, Mitos, Profesi Hakim, The Devil Judge</p> <p>Korean dramas have become a global life routine. One of the recent trends gaining popularity is legal-themed dramas <br>that portray the profession of judges. This study aims to identify the types of signs used as symbolic representations <br>and to understand the meanings of denotation, connotation, as well as myths in the Korean drama The Devil Judge. <br>This research employs a qualitative method with a descriptive approach and utilizes Roland Barthes' semiotics theory. <br>The drama encompasses layers of symbolism that depict myths surrounding the profession of judges, including their <br>characteristics, responsibilities, and roles within society, encompassing societal expectations, formed images, as well <br>as inherent moral and ethical expectations. The research findings indicate that symbols such as media, workspaces, <br>judge's robe, judge's gavel, scales, books, homes, female judges, courtrooms, prosecutors and judges, fair judges, <br>food, and the judge's oath play significant roles in representing the profession of judges. Furthermore, the myths <br>portrayed in this drama depict judges as individuals with power and authority, responsible for ensuring social well<br>being, highly respected and noble figures, wise leaders in law enforcement, mediators in conflicts, guardians of social <br>justice, and decision-makers. These symbols and myths strengthen the message within the Korean drama The Devil <br>Judge regarding the profession of judges, consequently influencing public perceptions. <br>Keyword: Semiotic, Myths, Profession of Judge, The Devil Judge</p>2025-12-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 AKSARABACA Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budayahttps://journal.unas.ac.id/aksarabaca/article/view/433110.47313 DENOTASI, KONOTASI, DAN MITOS DALAM IKLAN KOREA JADAM CHICKEN: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES 2025-12-23T05:32:14+07:00Rahmad Faisalfitri.meutia@civitas.unas.ac.idMochammad Febriansyahfitri.meutia@civitas.unas.ac.id Fitri Meutia fitri.meutia@civitas.unas.ac.id<p>Penelitian ini menganalisis iklan “What the Hot Chicken” milik Jadam Chicken dengan teori semiotika Roland Barthes <br>untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos dalam representasi visual dan linguistik. Melalui metode <br>kualitatif deskriptif, data diperoleh dari tayangan iklan dan ditafsirkan berdasarkan dua tingkat pemaknaan Barthes. <br>Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda-tanda seperti ekspresi kepedasan ekstrem, pakaian formal juri, dialog <br>tantangan, serta reaksi tubuh peserta membangun makna tentang intensitas pedas, hierarki sosial, dan ketangguhan. <br>Pada level mitos, iklan merepresentasikan budaya maebushim (kebanggaan menahan pedas) sebagai simbol <br>keberanian dan identitas masyarakat Korea. Penelitian ini memperlihatkan bahwa iklan tidak hanya mempromosikan <br>produk, tetapi juga membentuk narasi budaya melalui konstruksi tanda. <br>Kata kunci : denotasi, konotasi, mitos</p> <p>This study analyzes Jadam Chicken's "What the Hot Chicken" advertisement using Roland Barthes's semiotic theory <br>to uncover denotative, connotative, and mythical meanings in visual and linguistic representations. Using descriptive <br>qualitative methods, data were obtained from advertisements and interpreted based on Barthes's two levels of meaning. <br>The results show that signs such as expressions of extreme spiciness, the judges' formal attire, the challenge dialogue, <br>and the participants' bodily reactions construct meanings about spiciness intensity, social hierarchy, and toughness. <br>At the mythical level, the advertisement represents the culture of maebushim (pride in enduring spiciness) as a symbol <br>of courage and identity for Korean society. This study demonstrates that advertisements not only promote products <br>but also shape cultural narratives through the construction of signs. <br>Keywords: denotation, connotation, myth</p>2025-12-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 AKSARABACA Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budayahttps://journal.unas.ac.id/aksarabaca/article/view/433210.47313 WACANA POSKOLONIALISME DALAM NOVEL KEBERANGKATAN KARYA NH.DINI 2025-12-23T05:38:55+07:00Nisrina Nabilahnisrina.nabilah@civitas.unas.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji hibriditas dan ambivalensi dalam novel Keberangkatan karya NH Dini sebagai representasi <br>realitas sosial masyarakat pascakolonial di Indonesia. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan data <br>berupa kata, frasa, serta wacana dari novel tersebut, penelitian ini menerapkan teori postkolonialisme Homi K. <br>Bhabha, khususnya pada lokus mimikri, hibriditas, dan ambivalensi. Hasil analisis menunjukkan adanya bentuk <br>hibriditas dalam relasi budaya, sosial, politik, dan bahasa yang dialami oleh tokoh utama. Ambivalensi tokoh juga <br>terlihat jelas dalam relasi budaya, sosial, dan pola pikir. Konsep hibriditas membuktikan percampuran kultural dan <br>struktural yang melahirkan bentuk identitas baru. Pada tokoh utama, Elisabeth Fritz, ditemukan aspek-aspek <br>hibriditas Homi K. Bhabha, termasuk ambivalensi, hibriditas (bahasa, identitas, gaya hidup), dan perasaan "tidak <br>berketempatan". Kehidupan Elisa sebagai individu beridentitas Indonesia-Belanda menyebabkan identitasnya <br>terpecah, sehingga ia merasa tidak sepenuhnya diterima baik oleh masyarakat pribumi meskipun telah berusaha <br>beradaptasi. <br>kata kunci: hibriditas, ambivalensi, relasi budaya</p> <p>This research examines hybridity and ambivalence in NH Dini's novel Keberangkatan as a representation of the social <br>reality of postcolonial Indonesian society. Utilizing a qualitative descriptive method and data comprising words, <br>phrases, and discourse from the novel, this study applies Homi K. Bhabha's postcolonial theory, specifically focusing <br>on mimicry, hybridity, and ambivalence. The analysis reveals the presence of forms of hybridity in the cultural, social, <br>political, and linguistic relationships experienced by the main character. The character's ambivalence is also evident <br>in cultural, social, and thought patterns. The concept of hybridity demonstrates a cultural and structural blending <br>that gives rise to new forms of identity. In the main character, Elisabeth Fritz, aspects of Homi K. Bhabha's hybridity <br>are found, including ambivalence, hybridity (language, identity, lifestyle), and a feeling of "unhomeliness." Elisa's life <br>as an Indonesian-Dutch individual leads to a fragmented identity, making her feel not fully accepted by the indigenous <br>community despite her attempts to adapt. <br>Keywords: hybridity, cultural realtionship</p>2025-12-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 AKSARABACA Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budayahttps://journal.unas.ac.id/aksarabaca/article/view/433310.47313 KERAGAMAN DAN VARIASI LINGUISTIK DI INDONESIA2025-12-23T05:43:00+07:00Administrator Ojs Unasojs@civitas.unas.ac.idSomadi Sosrohadisomadi_sosrohadi@yahoo.co.id<p>Keragaman linguistik di Indonesia merupakan realitas sosial yang tak terhindarkan, mengingat negara ini memiliki <br>ribuan pulau dan ratusan kelompok etnolinguistik. Abdul Chaer (2012) menjelaskan bahwa keragaman linguistik di <br>Indonesia adalah gejala sosiolinguistik yang terjadi karena perbedaan geografis, sosial, dan fungsional. Menurutnya, <br>variasi bahasa muncul dari perbedaan dialek daerah, ragam sosial yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, <br>pekerjaan, usia, serta ragam situasional yang berkaitan dengan konteks penggunaan bahasa, seperti formal dan <br>nonformal. Oleh karena itu, keragaman ini tidak hanya menunjukkan jumlah bahasa atau dialek yang digunakan, <br>tetapi juga kompleksitas dalam penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.Harimurti Kridalaksana (2001) <br>menambahkan bahwa keragaman linguistik adalah keberadaan berbagai sistem bahasa atau variasi linguistik dalam <br>masyarakat bahasa tertentu. Dalam konteks Indonesia, hal ini mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah panjang <br>interaksi antaretnis, termasuk pengaruh dari bahasa asing akibat kolonialisme dan perdagangan. Menurut <br>Kridalaksana, keberagaman ini dapat dilihat sebagai potensi dan kekayaan nasional yang perlu dijaga dan <br>dikembangkan melalui kebijakan kebahasaan yang inklusif dan berkeadilan. Di sisi lain, Fishman (1972) memandang <br>keragaman bahasa sebagai fenomena yang berkembang secara sosiologis karena adanya kontak bahasa, perbedaan <br>fungsi sosial bahasa, dan struktur masyarakat multilingual. Hal ini sejalan dengan kondisi Indonesia yang <br>memerlukan pengelolaan bahasa yang cermat agar keragaman tidak menjadi sumber konflik, melainkan kekuatan <br>budaya.Pandangan lain datang dari Nababan (1984), yang menyatakan bahwa multilingualisme di Indonesia harus <br>dipahami sebagai bentuk kekayaan budaya yang menuntut adanya perencanaan bahasa secara sistematis. Pelestarian <br>bahasa daerah, pemantapan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, serta penyesuaian terhadap kebutuhan <br>komunikasi global merupakan tantangan yang harus dihadapi dalam mengelola keragaman ini. Dengan pendekatan <br>yang tepat, keragaman linguistik tidak hanya memperkuat identitas nasional, tetapi juga mendorong keterbukaan <br>budaya dan pemahaman lintas komunitas. <br>kata kunci: keragamn linguistic, gejala sosiolingusitik, femonea</p> <p>Linguistic diversity in Indonesia is an inevitable social reality, given that the country has thousands of islands and <br>hundreds of ethnolinguistic groups. Abdul Chaer (2012) explains that linguistic diversity in Indonesia is a <br>sociolinguistic phenomenon that occurs due to geographical, social, and functional differences. According to him, <br>language variation arises from differences in regional dialects, social varieties influenced by educational background, <br>occupation, age, and situational varieties related to the context of language use, such as formal and informal. <br>Therefore, this diversity not only reflects the number of languages or dialects used, but also the complexity of their <br>use in everyday life. Harimurti Kridalaksana (2001) adds that linguistic diversity is the existence of various language <br>systems or linguistic variations in a particular language community. In the Indonesian context, this reflects the rich <br>culture and long history of interethnic interaction, including the influence of foreign languages due to colonialism <br>and trade. According to Kridalaksana, this diversity can be seen as a national potential and wealth that needs to be <br>preserved and developed through inclusive and equitable language policies. On the other hand, Fishman (1972) <br>viewing linguistic diversity as a sociologically evolving phenomenon due to language contact, differences in the social <br>functions of language, and the structure of multilingual societies. This is in line with Indonesia's condition, which <br>requires careful language management so that diversity does not become a source of conflict, but rather a cultural <br>strength. Another view comes from Nababan (1984), who states that multilingualism in Indonesia must be understood <br>as a form of cultural wealth that requires systematic language planning. The preservation of regional languages, the <br>consolidation of Indonesian as the language of unity, and adaptation to global communication needs are challenges that must be faced in managing this diversity. With the right approach, linguistic diversity not only strengthens <br>national identity but also encourages cultural openness and cross-community understanding. <br>Keywords: linguistic diversity, sociolinguistic phenomena, phenomenon </p>2025-12-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 AKSARABACA Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya