Ilmu dan Budaya
https://journal.unas.ac.id/ilmu-budaya
<p>Ilmu dan Budaya adalah Jurnal Nasional yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Universitas Nasional (LPU-UNAS) Jakarta. Ilmu dan Budaya pertama kali terbit tahun 1978 dengan Nomor : 503/SK/Ditjen PPG/1978. Kajian Jurnal ini meliputi bidang Ilmu dan Budaya seperti Ilmu Sosial, Ekonomi, Hukum, Politk, Sastra, Komunikasi, Strategi Kemanusiaan, Administrasi Publik, Budaya dan Peradaban, dan Ilmu-Ilmu Sosial lainya (Multidisiplin Ilmu). Jurnal ini terbit setiap tahun 2 kali yaitu, Bulan April dan Oktober dengan Nomor <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1180436409" target="_blank">PISSN : 0126-2602</a>, <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20210708590879613" target="_blank">EISSN : 2798-6160</a>.</p>Universitas Nasionalen-USIlmu dan Budaya0126-2602Penyalahgunaan Lembaga Perkawinan dalam Praktik Poligami Siri: Formulasi Perlindungan Hukum bagi Istri Sah
https://journal.unas.ac.id/ilmu-budaya/article/view/4361
<p><em>This study aims to analyze the abuse of the institution of marriage in the practice of unregistered polygamy (siri polygamy), as well as to formulate an appropriate legal protection framework with legal certainty for the lawful wife in cases of unregistered polygamy. The analysis is conducted using the theory of legal certainty and the theory of legal protection. This is considered important because the practice of unregistered polygamy formally utilizes the institution of marriage in the name of religious legitimacy, yet substantively aims to circumvent the state's legal control mechanisms over polygamy. This situation positions the lawful wife as a victim, as a result of the legal disadvantages she suffers. This study employs a normative juridical method through statutory, conceptual, and case approaches. The data used are secondary data consisting of primary, secondary, and tertiary legal materials, which are analyzed qualitatively and presented prescriptively. The results of the study show that unregistered polygamy constitutes an abuse of the institution of marriage that causes legal harm to the lawful wife in the form of the loss of her exclusive right as the sole marital partner and her procedural rights in relation to the granting of marriage permits pertaining to the principle of open monogamy as the concept of marriage adopted in Indonesia. The formulation of appropriate legal protection with legal certainty for the lawful wife as the victim of unregistered polygamy lies in the integration of the civil and criminal domains. In the civil domain, unregistered polygamy can be qualified as an unlawful act (onrechtmatige daad) as stipulated in Article 1365 of the Civil Code for the abuse of the institution of marriage. Furthermore, specifically within the realm of Family Law, unregistered polygamy can serve as grounds for filing a divorce lawsuit based on the provisions of Article 19 letter a and letter f of Government Regulation Number 9 of 1975 on the Implementation of Law Number 1 of 1974 on Marriage, in conjunction with Article 116 letter a and letter f of Presidential Instruction Number 1 of 1991 on the Compilation of Islamic Law. In the criminal domain, unregistered polygamy can be qualified as a criminal offense against marriage, adultery, and cohabitation as stipulated in Article Article 402, 411 paragraph (1) in conjunction with Article 412 paragraph (1) and paragraph (2) letter a of Law Number 1 of 2023 on the Criminal Code.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyalahgunaan lembaga perkawinan dalam praktik poligami siri, serta merumuskan formulasi perlindungan hukum yang tepat dan berkepastian hukum bagi istri sah atas poligami siri. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori kepastian hukum dan teori perlindungan hukum. Hal ini dinilai penting karena praktik poligami siri menggunakan institusi perkawinan secara formal atas nama legitimasi agama, namun secara substansial bertujuan menghindari mekanisme kontrol hukum negara terhadap poligami. Keadaan ini menempatkan istri sah sebagai korban, sebagai akibat dari kerugian-kerugian yang diderita secara hukum. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual dan kasus. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa poligami siri merupakan penyalahgunaan lembaga perkawinan yang menimbulkan kerugian hukum bagi istri sah berupa hilangnya hak eksklusif sebagai satu-satunya pasangan kawin dan hak prosedural sehubungan dengan pemberian izin perkawinan yang berkaitan dengan asas monogami terbuka sebagai konsep perkawinan yang dianut di Indonesia. Formulasi perlindungan hukum yang tepat dan berkepastian hukum bagi istri sah selaku korban dari poligami siri terletak pada pengintegrasian antara bidang perdata dan pidana. Secara perdata, poligami siri dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata atas penyalahgunaan lembaga perkawinan. Selain itu, secara khusus dalam tataran Hukum Keluarga, poligami siri dapat dijadikan sebagai alasan untuk mengajukan gugatan perceraian berdasarkan ketentuan Pasal 19 huruf a dan huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Perkawinan juncto Pasal 116 huruf a dan huruf f Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Dalam bidang pidana, poligami siri dapat dikualifisir sebagai tindak pidana terhadap perkawinan, perzinaan dan kohabitasi yang ditentukan dalam Pasal 402, Pasal 411 ayat (1) juncto Pasal 412 ayat (1) dan ayat (2) huruf a Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana.</p>Albert Tanjung
Copyright (c) 2026
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-07-302026-07-3047111210.47313/jidb.v47i1.4361Kajian terhadap Penelitian tentang Penguatan Kompetensi Karyawan melalui Pelatihan dan Pengembangan SDM di Era Digital Sepanjang Tahun 2021–2025
https://journal.unas.ac.id/ilmu-budaya/article/view/4393
<p><em>In the context of increasingly rapid global development, training and development are essential undertakings, as they contribute to the creation of superior human resources, particularly in terms of knowledge, technical skills, and professional competencies that support the enhancement of organizational performance. This article aims to analyze training and development as critical instruments for improving employee competence and to identify the constraints that hinder their effectiveness, thereby enabling companies to implement more appropriate strategies in the digital era. </em><em>The analysis was conducted through a descriptive qualitative approach using a literature review method on national and international scientific journal articles accessed via Google Scholar with the keywords 'Human Resource Training and Development' published in the years 2021–2025. The findings indicate that training and development have a significant impact on improving employee quality and competitiveness in the digital era. However, their implementation faces several challenges, including limited human resources, high workloads, unequal access to training opportunities, and uneven technological readiness. Therefore, well-structured digital-based training emerges as a promising approach to support the development of employee competencies in line with the demands of modern workplaces.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p> </p> <p>Dalam perkembangan dunia yang semakin cepat, pelatihan dan pengembangan sangat penting untuk dilakukan karena dapat menciptakan SDM yang unggul, baik dari segi pengetahuan, keterampilan teknis, maupun kemampuan profesional yang mendukung peningkatan kinerja perusahaan. Artikel ini ditujukan untuk melakukan analisis terhadap pelatihan dan pengembangan sebagai sarana penting dalam meningkatkan kompetensi karyawan serta mengidentifikasi kendala yang menghambat efektivitasnya, sehingga perusahaan dapat menerapkan strategi yang lebih tepat di era digital. Analisis dilakukan melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode <em>literature review</em> terhadap artikel jurnal ilmiah nasional dan internasional yang diakses melalui Google Scholar dengan kata kunci “Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia” terbitan tahun 2021–2025. Hasil analisis menunjukan bahwa pelatihan dan pengembangan berperan penting dalam meningkatkan kualitas dan daya saing karyawan di era digital. Dalam implementasinya terdapat beberapa tantangan dan hambatan seperti keterbatasan SDM, tingginya beban kerja, ketimpangan akses pelatihan, serta kesiapan teknologi yang belum merata. Maka dari itu, pelatihan berbasis digital yang terarah menjadi salah satu pendekatan yang terlihat mampu mendukung peningkatan kompetensi karyawan sesuai dengan tuntutan pekerjaan modern.</p>Dezan Abdi MuhamadAisyah Indah RamadhantiFaras Azkiya SolihinMeida Suci HanisaputriDeden Kurniawan
Copyright (c) 2026
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-08-142026-08-14471132310.47313/jidb.v47i1.4393Dampak Resolusi 16/18 Dewan HAM PBB dalam Kebijakan Equality Act 2010 terhadap Pencegahan Gerakan Islamophobia dan Anti-Imigran di Inggris melalui Lembaga Tell MAMA Tahun 2023–2025
https://journal.unas.ac.id/ilmu-budaya/article/view/4433
<p><em>This article examines the policy of United Nations Human Rights Council Resolution 16/18 as adapted into the Equality Act 2010 by the British government, the implementation of which is carried out, among other means, through the Tell MAMA institution, an independent organization trusted by the British government to assist in handling reports from victims of violence and hate crimes on the basis of religion, belief, ethnicity, and nationality. The adaptation of this resolution theoretically constitutes an effort toward social integration within the international regime for the protection of human rights. The research employs a qualitative approach with a library research method. The findings indicate that the programs and activities conducted by the Tell MAMA institution throughout 2023–2025 demonstrate that UN Human Rights Council Resolution 16/18, as adapted through the Equality Act 2010 in the United Kingdom, has had a significant impact on the prevention of Islamophobic and anti-immigrant movements. This impact is evidenced by: (1) the formation of a harmonious social structure within society; (2) increased tolerance among religious communities; and (3) strengthened protection of minority groups.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Artikel ini membahas tentang kebijakan <em>Resolusi 16/18</em> Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diadaptasi dalam kebijakan <em>Equality Act</em> 2010 oleh pemerintah Inggris, yang dalam pelaksanaannya, diantaranya dilakukan melalui lembaga <em>Tell MAMA, </em>organisasi independen yang dipercayai oleh pemerintah Inggris dalam membantu penanganan laporan korban kekerasan dan kejahatan atas dasar agama, kepercayaan, etnis dan kebangsaan. Adaptasi terhadap resolusi tersebut secara teoritik merupakan usaha untuk melakukan integrasi sosial dalam rezim internasional untuk melindungi hak asasi manusia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan dengan metode studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program dan kegiatan yang dilakukan oleh lembaga <em>Tell MAMA</em> sepanjang tahun 2023-2025, telah membuktikan bahwa <em>Resolusi 16/18</em> Dewan HAM PBB yang diadaptasi melalui kebijakan <em>Equality Act</em> 2010 di Inggris, memiliki dampak yang signifikan dalam pencegahan gerakan Islamophobia dan anti imigran. Dampak tersebut dibuktikan dengan: (1) terbentuknya struktur sosial masyarakat yang harmonis; (2) meningkatnya toleransi antar umat beragama; dan (3) menguatnya perlindungan kelompok minoritas.</p> <p> </p> <p> </p>Adi Rio AriantoFaisal Maulana
Copyright (c) 2026
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-10-122026-10-12471243810.47313/jidb.v47i1.4433