https://journal.unas.ac.id/jdmcc/issue/feedJournal of Digital Media, Culture, and Communication2026-10-27T22:24:06+07:00JDMCCjmcc@civitas.unas.ac.idOpen Journal Systems<p>JDMCC is the Communication Journal published biannually in April and October. JDMCC contains scientific articles from research in the field of communication in general, written in Indonesian.<br /><br /></p> <p><strong>Contact :</strong></p> <p><strong>Journal of Digital Media and Culture Communication (JDMCC)</strong></p> <p>Department of Communication, Faculty of Social and Political Sciences</p> <p>Universitas Nasional Jl. Sawo Manila No 61 Pejaten Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520, telp (021) 7806700 (hunting), Fax 7802718-7802719</p> <p>Email: <a href="https://journal.unas.ac.id/jdmcc/management/settings/context#masthead/mailto:jmcc@civitas.unas.ac.id">jmcc@civitas.unas.ac.id</a></p> <p><strong> </strong></p>https://journal.unas.ac.id/jdmcc/article/view/4500Modal Simbolik Awardee dalam Narasi Impact Driven LPDP di Instagram2026-10-27T22:07:10+07:00Fitri Maharanifitrimaharani.usni@gmail.comFitri Sarasatifitri.sarasati@usni.ac.id<p>This study examines the Impact Driven narrative in the institutional communication of Indonesia's<br>Endowment Fund for Education (LPDP) through its official Instagram account, @lpdp_ri, amid<br>public scrutiny over awardee accountability. Unlike prior research that read this phenomenon<br>through two frameworks at once, this study narrows and deepens the analysis through Pierre<br>Bourdieu's media sociology. Using a qualitative descriptive-interpretive approach with<br>Fairclough's Critical Discourse Analysis on three official Instagram posts, the study traces how<br>Instagram functions as an arena of meaning production, how awardees' personal stories are<br>converted into institutional symbolic capital, and how institutional habitus makes such<br>representational patterns appear natural. Findings show that LPDP consistently foregrounds<br>awardees from structurally marginalized regions who choose to return and contribute, while<br>awardees with different stories are never represented, a subtle form of symbolic power that<br>operates through selective representation rather than overt silencing. The study concludes that the<br>Impact Driven narrative functions as a meaning-production practice that sustains institutional<br>legitimacy through symbolic capital converted from awardees' personal experience. Future<br>research is recommended to include the dimension of public reception and a broader data corpus</p>2026-10-27T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://journal.unas.ac.id/jdmcc/article/view/4501Konstruksi Bottom Line dalam Komunikasi Profesional: Analisis Komparatif Struktur Pesan pada Industri Pelayaran dan Logistik2026-10-27T22:09:49+07:00Anis Hamidatiahamidati@lecturer.ubm.ac.idNadine Sheila Ngatinos14250029@student.ubm.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji bagaimana profesional industri pelayaran dan logistik mengonstruksi<br>bottom line (pesan utama) dalam pesan operasional sebelum dan setelah memperoleh instruksi<br>Bottom Line Up Front (BLUF). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan<br>membandingkan struktur respons tertulis dari 22 peserta lokakarya komunikasi profesional yang<br>memberikan persetujuan penelitian. Respons awal disusun menggunakan cara komunikasi yang<br>biasa dilakukan peserta, tanpa instruksi khusus mengenai BLUF, sedangkan respons berikutnya<br>disusun setelah peserta diperkenalkan pada prinsip tersebut. Analisis berfokus pada urutan<br>informasi, perumusan bottom line, serta hubungan antara persoalan operasional dan tujuan<br>komunikasi. Temuan menunjukkan bahwa sebagian respons awal mendahulukan penjelasan<br>masalah, sementara respons lainnya telah menempatkan rekomendasi pada bagian pembuka.<br>Setelah instruksi BLUF, sejumlah peserta menyampaikan rekomendasi atau permintaan keputusan<br>secara lebih langsung, meskipun beberapa respons masih menyisakan ketidakjelasan mengenai<br>tindakan yang diperlukan. Perbandingan juga memperlihatkan bahwa pesan yang lebih ringkas<br>tidak selalu memiliki bottom line yang lebih jelas. Penelitian menyimpulkan bahwa konstruksi<br>bottom line berkaitan dengan pemilihan dan pengorganisasian informasi berdasarkan tujuan<br>komunikasi, bukan sekadar penempatan kalimat pada bagian awal pesan. Temuan terbatas pada<br>konteks latihan tertulis dan tidak digunakan untuk menyimpulkan efektivitas pelatihan</p>2026-10-27T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://journal.unas.ac.id/jdmcc/article/view/4502Strategi Marketing Public Relations Dalam Meningkatkan Brand Image (Studi Kasus Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia Playschool)2026-10-27T22:12:23+07:00Zahran Putra Bhuanaachmucharam@gmail.comAchmad Mucharamachmucharam@gmail.com<p>Pendidikan anak usia dini di Indonesia terus berkembang dengan berbagai inovasi dalam membangun<br>citra dan kepercayaan publik. Indonesia Playschool hadir sebagai lembaga PAUD yang<br>mengedepankan pendekatan humanis dan komunikatif dalam proses pembelajarannya. Penelitian ini<br>menggunakan asusmsi dasar Excellence Theory. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif<br>deskriptif dengan metode studi kasus, Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pihak<br>Marketing, Public Relations , guru, dan orang tua murid, serta didukung oleh observasi kegiatan dan<br>dokumentasi media digital sekolah. Fokus analisis mencakup strategi MPR seperti penggunaan media<br>sosial, penyelenggaraan event edukatif, storytelling, dan keterlibatan komunitas. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa strategi MPR Indonesia Playschool mampu meningkatkan Brand Image<br>lembaga secara signifikan. Pendekatan komunikasi yang partisipatif, terbuka, dan menyentuh aspek<br>emosional berhasil meningkatkan kepercayaan masyarakat, terlihat dari naiknya jumlah pendaftar dan<br>tingginya keterlibatan orang tua.</p>2026-10-27T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://journal.unas.ac.id/jdmcc/article/view/4505Konstruksi Makna Ungkapan “Kabur Aja Dulu” sebagai Bentuk Resistensi Komunikasi Pekerja Generasi Z dalam Budaya Kerja Toksik2026-10-27T22:20:57+07:00Muhamad HusenMuhamadhusen3811@gmail.comWoro Harkandi Kencanaworo.harkandi@upi-yai.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji bagaimana pekerja muda memaknai ungkapan “Kabur Aja Dulu” yang viral di<br>media sosial Indonesia sejak awal 2025 dan bagaimana ungkapan tersebut berfungsi sebagai resistensi<br>komunikasi terhadap budaya kerja toksik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode<br>fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi digital, dan dokumentasi<br>terhadap tiga informan Generasi Z dengan latar pekerjaan berbeda yang berdomisili di Amerika Serikat<br>dan Jepang, yang dipilih secara purposif. Data dianalisis dengan model Miles dan Huberman,<br>berlandaskan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann serta empat bentuk resistensi Fleming dan<br>Spicer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna “Kabur Aja Dulu” dikonstruksi melalui tiga tahap<br>dialektis, yakni eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, yang bermuara pada redefinisi kolektif atas<br>loyalitas dan profesionalisme kerja. Ungkapan ini juga mewadahi empat bentuk resistensi komunikasi<br>yang hadir simultan dan saling menguatkan: jarak (distance), suara (voice), kreasi (creation), dan pelarian<br>(escape). Resistensi tersebut muncul secara reaktif maupun antisipatif sesuai tahap karier informan, dan<br>pengalaman lintas negara memperkuat keberanian mereka untuk menegosiasikan ulang standar kelayakan<br>kerja. “Kabur Aja Dulu” dengan demikian bukan sekadar tren bahasa gaul sesaat, melainkan cerminan<br>konstruksi sosial kolektif pekerja muda Indonesia dalam merespons budaya kerja toksik melalui kanal<br>komunikasi digital.</p>2026-10-27T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://journal.unas.ac.id/jdmcc/article/view/4506Paradoks Kepuasan Dalam Ketidakpastian: Analisis Kualitatif Pengalaman Pasca- Pembelian Produk Blind Box Pop Mart Pada Platform Shopee2026-10-27T22:24:06+07:00Cleoresta Dzifi Hamas Daneca2210414020@mahasiswa.upnvj.ac.idAna Kuswantianakuswanti@upnvj.ac.id<p>Ketidaksesuaian antara representasi informasi digital pada Shopee dengan kondisi fisik produk<br>blind box Pop Mart memunculkan paradoks kepuasan, yaitu kondisi ketika konsumen tetap<br>merasakan kepuasan meskipun mengalami ketidaksesuaian kualitas produk. Fenomena tersebut<br>menunjukkan bahwa pengalaman pasca pembelian blind box tidak selalu berakhir pada<br>ketidakpuasan, tetapi dipengaruhi oleh cara konsumen memaknai pengalaman yang dialaminya.<br>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan ekspektasi konsumen berdasarkan<br>informasi digital di Shopee serta menjelaskan pengalaman kepuasan pasca pembelian ketika<br>terjadi ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas produk blind box Pop Mart. Penelitian ini<br>menggunakan Expectancy Disconfirmation Theory (EDT) untuk menjelaskan hubungan antara<br>ekspektasi, kinerja aktual produk, dan evaluasi kepuasan konsumen setelah pembelian.<br>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan<br>pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Data diperoleh melalui wawancara mendalam,<br>observasi, dokumentasi, serta dianalisis menggunakan NVivo 15 melalui proses coding,<br>kategorisasi tema, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen<br>membentuk ekspektasi dengan memanfaatkan berbagai informasi digital sebelum melakukan<br>pembelian, kemudian membandingkan kondisi produk yang diterima dengan harapan yang<br>telah terbentuk. Informan yang menerima produk dengan ketidaksesuaian kualitas fisik<br>mengalami negative disconfirmation, sedangkan informan yang menerima produk sesuai<br>dengan ekspektasinya mengalami confirmation. Konsumen membedakan antara ketidakpastian<br>karakter yang diterima sebagai bagian dari konsep blind box dan ketidaksesuaian kualitas fisik<br>produk yang tidak diharapkan. Meskipun terjadi negative disconfirmation pada kualitas fisik,<br>kepuasan tidak selalu hilang karena konsumen memaknai pengalaman pembelian secara<br>keseluruhan melalui pengalaman unboxing, keberhasilan memperoleh karakter wishlist, dan<br>penerimaan terhadap unsur ketidakpastian. Kondisi tersebut membentuk paradoks kepuasan,<br>yaitu ketika kepuasan dan kekecewaan hadir secara bersamaan dalam satu pengalaman pascapembelian.<br>Penelitian ini memberikan kebaruan dengan menunjukkan bahwa negative<br>disconfirmation pada kualitas fisik tidak selalu berakhir pada ketidakpuasan karena kepuasan<br>dibentuk melalui pemaknaan terhadap keseluruhan pengalaman pembelian.</p>2026-10-27T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026