Jurnal Sosial dan Humaniora https://journal.unas.ac.id/populis <div id="journalDescription"><p style="text-align: justify;">Populis, Jurnal Sosial dan Humaniora adalah jurnal berskala nasional yang mencakup berbagai kajian dan persoalan dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora dewasa ini. Secara spesifik jurnal populis menggambarkan realitas kehidupan masyarakat, namun tidak terbatas pada aspek-aspek tertentu, tetapi pada pokok persoalan tentang perkembangan ilmu pengetahuan sosial dan humaniora termasuk politik, hukum, ekonomi, sastra, pembangunan ekonomi dan perubahan sosial termasuk didalamnya antara lain pokok-pokok persoalan tentang pemberdayaan masyarakat, kelembagaan sosial dan pemerintahan, sistem pengetahuan. Populis adalah jurnal sosial humaniora yang bertujuan untuk menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual dan konstruksi sosial dan humaniora maupun hasil-hasil penelitian yang telah dicapai. Populis diterbitkan dua kali setahun yaitu di bulan Juni dan Desember.</p><p style="text-align: justify;">Populis Jurnal Sosial dan Humaniora adalah jurnal berskala nasional yang mencakup berbagai kajian dan persoalan dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora dewasa ini. Secara spesifik jurnal populis menggambarkan realitas kehidupan masyarakat, namun tidak terbatas pada aspek-aspek tertentu, tetapi pada pokok persoalan tentang perkembangan ilmu pengetahuan sosial dan humaniora termasuk politik, hukum, ekonomi, sastra, pembangunan ekonomi dan perubahan sosial termasuk didalamnya antara lain pokok-pokok persoalan tentang pemberdayaan masyarakat, kelembagaan sosial dan pemerintahan, sistem pengetahuan lokal dan kesehatan masyarakaat, kemajuan ilmu komunikasi dan hal-hal yang berkaitan dengan fenomena dan perubahan sosial masyarakat dalam berbagai dimensi.</p></div><p><strong>ISSN : 2460-4208 EISSN : 2549-7685</strong></p> Universitas Nasional id-ID Jurnal Sosial dan Humaniora 2460-4208 <p><strong>Pemberitahuan Hak Cipta</strong></p><ol><li>Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.</li><li>Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan lisensi Creative Commons Atribusi-NonCommercial-No Derivative (CC BY-NC-ND), yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal BACA dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.</li><li>Setiap terbitan Populis Jurnal Sosial dan Humaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.</li></ol> Halal Pharmacy: Konsep dan Strategi Pengembangan Industri Herbal dan Obat-obatan di Indonesia https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4275 <p>Penelitian ini menganalisis urgensi perumusan konsep <em>halal pharmacy</em> dalam industri herbal Indonesia yang hingga kini belum memiliki definisi baku dalam literatur maupun regulasi. Ketidakjelasan konsep ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan menghambat implementasi kewajiban sertifikasi halal sebagaimana diatur dalam UU No. 33 Tahun 2014 dan PP No. 31 Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual untuk menelaah kesenjangan antara norma dan praktik industri. Temuan menunjukkan bahwa rendahnya tingkat sertifikasi halal dan tingginya potensi kontaminasi non-halal disebabkan oleh lemahnya pengawasan bahan baku, fasilitas produksi, dokumentasi, dan rantai pasok, terutama pada UMKM. Oleh karena itu, standar teknis halal lebih diperlukan daripada sekadar sertifikasi administratif. Penelitian ini merumuskan <em>halal pharmacy</em> sebagai sistem praktik kefarmasian yang mengintegrasikan prinsip kehalalan dalam seluruh rantai produksi, dan memberikan dasar bagi penguatan regulasi teknis di sektor herbal.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study examines the urgency of formulating a clear concept of halal pharmacy within Indonesia’s herbal industry, which currently lacks a standardized definition in both pharmaceutical literature and halal regulations. The absence of this concept creates legal uncertainty and hinders the effective implementation of mandatory halal certification under Law No. 33/2014 and Government Regulation No. 31/2019. Using a normative juridical method with statutory and conceptual approaches, this research analyzes the gap between regulatory norms and industry practices. The findings show that the low rate of halal certification and the high risk of non-halal contamination stem from weak control of raw materials, production facilities, documentation, and supply chains, particularly among MSMEs. Thus, technical halal standards are needed beyond administrative certification. This study proposes halal pharmacy as a pharmaceutical practice system that integrates halal principles throughout the production chain and provides a foundation for strengthening technical regulations in the herbal sector.</em></p> Asmanul Husna Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-12-24 2025-12-24 10 2 93 101 Studi Komparasi Arsitektur Informasi, Desain Antarmuka, dan Logika Klasifikasi Google Books dengan Repositori Akademik UI, UGM, dan UNAIR https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4268 <p><em>Platform</em> pengetahuan yang dikembangkan oleh korporasi memiliki perbedaan yang mendasar secara epistemologis dan infrastruktur dengan repositori institusi akademik. Dengan menggunakan kerangka kapitalisme <em>platform</em>, keadilan epistemik, dan perilaku informasi, penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan perbedaan epistemologis dan infrastruktur dengan memperbandingkan tampilan antarmuka (<em>interface</em>) dari platform korporat <em>Google Books</em> dengan tiga repositori institusi akademik yang berada di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah dan Universitas Airlangga. Studi ini bersifat interdisipliner dengan mengintegrasikan perspektif ilmu perpustakaan, humaniora digital, dan kajian kritis data untuk menelaah relasi kuasa yang melekat dalam infrastruktur <em>platform</em>. Penelitian dilakukan melalui perbandingan arsitektur informasi, desain antarmuka (<em>interface</em>) serta logika klasifikasi antara <em>Google Books</em> dengan repositori institusional akademik UI, UGM dan UNAIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Google Books memprioritaskan personalisasi algoritmik, pencarian prediktif dan kesederhanaan visual yang berlandaskan pada tujuan serta klasifikasi BISAC. Sebaliknya, repositori institusi akademik berfokus pada standar ilmiah secara ketat, termasuk prinsip akses terbuka dan pelestarian karya ilmiah lokal. Desain antarmuka repositori institusi akademik terlihat usang serta tingkat ketercapaian yang terbatas sehingga menyebabkan keterlibatan pengguna rendah dan berkurangnya visibilitas repositori akademik dalam ranah digital global. Repositori akademik perlu menjalani transformasi digital yang berfokus pada desain berbasis pengguna, kerangka metadata yang inklusif, serta pembaruan antarmuka, agar mampu berfungsi sebagai penyeimbang epistemik terhadap platform komersial. Artikel ini berkontribusi pada perkembangan humaniora digital dengan mengusulkan perlunya rekonseptualisasi repositori sebagai teknologi sipil (<em>civic technologies</em>), yang tidak semata berorientasi pada manfaat finansial, tetapi juga pada penguatan kesetaraan digital, keadilan pengetahuan, dan pluralisme budaya, khususnya dalam ekosistem pengetahuan digital yang semakin terkomodifikasi.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><strong><em> </em></strong><em>The knowledge platform developed by corporations has fundamental epistemological and infrastructural differences from academic institutional repositories. Using the frameworks of platform capitalism, epistemic justice, and information behavior, this research aims to explain these epistemological and infrastructural differences by comparing the interface displays of the corporate platform Google Books with three academic institutional repositories in Indonesia: the University of Indonesia, Gadjah Mada University, and Airlangga University. This study is interdisciplinary, integrating perspectives from library science, digital humanities, and critical data studies to examine the power relations embedded within platform infrastructure. The research was conducted by comparing the information architecture, interface design, and classification logic between Google Books and the academic institutional repositories of UI, UGM, and UNAIR. The findings indicate that Google Books prioritizes algorithmic personalization, predictive search, and visual simplicity, all of which are based on BISAC objectives and classifications. In contrast, academic institutional repositories emphasize strict scholarly standards, including open access principles and the preservation of local scholarly works. The interface design of academic repositories appears outdated, with limited accessibility, resulting in low user engagement and reduced visibility of academic repositories in the global digital landscape. Academic repositories need to undergo digital transformation focused on user-centered design, inclusive metadata frameworks, and interface updates to function as an epistemic counterbalance to commercial platforms. This article contributes to the development of digital humanities by proposing the need to reconceptualize repositories as civic technologies—not solely oriented toward financial gain, but also toward strengthening digital equity, knowledge justice, and cultural pluralism, especially within an increasingly commodified digital knowledge ecosystem.</em></p> Arum Karisma Nadya Lakshita Dwi Putra Fitri Mutia Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-12-24 2025-12-24 10 2 111 127 Pemetaan Bibliometrik Tren Penelitian Artificial Intelligence dalam Bidang Pendidikan Tahun 2015–2025 https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4260 <p>Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tren penelitian tentang <em>Artificial Intelligence </em>(AI) dalam bidang pendidikan pada kurun tahun 2015–2025 dengan menggunakan metode bibliometrik. Analisis dilakukan secara deskriptif berbasis data publikasi yang diperoleh dari basis data Scopus melalui distribusi publikasi per tahun, identifikasi penulis, jurnal, institusi, serta pemetaan <em>keywoard co-occurance </em>dan kolaborasi antar penulis dengan memanfaatkan perangkat VOSViewer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pertumbuhan publikasi yang signifikan dari tahun ke tahun terutama di tahun 2020 disertai lonjakan yang tinggi pada tahun 2023 – 2025 yang dipicu dengan adanya <em>generative AI </em>seperti ChatGPT. Analisis kata kunci mengungkapkan tiga kluster utama, yaitu pengembangan teknologi (<em>machine learning</em>, <em>natural language processing</em>, <em>intelligent tutoring systems</em>), isu sosial dan etika (<em>AI ethics</em>, <em>student perceptions</em>), serta aspek pedagogis yang menekankan peran guru dan pengalaman belajar. Jejaring kolaborasi memperlihatkan dominasi peneliti dari Tiongkok, Amerika Serikat, dan Eropa, dengan beberapa tokoh berperan sebagai penghubung lintas negara. Pada temuan ini juga menyoroti bahwa penelitian AI tidak hanya fokus pada aspek teknis namun juga menyoroti etika, sosial, dan pedagogis.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This research aims to map the research trends on Artificial Intelligence (AI) in the field of education during the period 2015–2025 using a bibliometric method. The analysis is conducted descriptively based on publication data obtained from the Scopus database through the distribution of publications per year, </em><em>identification of authors, journals, institutions, and mapping of keyword co-occurrence and collaboration between authors using the VOSViewer tool. The results show a significant growth in publications from year to year, especially in 2020, accompanied by a high spike in 2023 and 2025, triggered by the presence of generative AI such as ChatGPT. Keyword analysis revealed three main clusters: technology development (machine learning, natural language processing, intelligent tutoring systems), social and ethical issues (AI ethics, student perceptions), and pedagogical aspects that emphasize the role of teachers and the learning experience. Collaboration networks show the dominance of researchers from China, the United States, and Europe, with several figures acting as cross-border liaisons. This finding also highlights that AI research does not only focus on technical aspects but also highlights ethical, social, and pedagogical aspects.</em></p> Chyntia Shafa Salsabila Imam Yuadi Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-12-24 2025-12-24 10 2 102 110 Rekonstruksi Narasi dan Negosiasi Gender oleh Dalang Perempuan Nyi Nia Dwi Raharjo dalam Pertunjukan Wayang Kulit Drupadi https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4257 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana pertunjukan Wayang Kulit modern merekonstruksi narasi Drupadi serta sejauh mana kebebasan artistik digunakan untuk menantang atau mempertahankan moralitas gender tradisional. Studi ini berfokus pada pertunjukan Drupadi oleh dalang perempuan Nyi Nia Dwi Raharjo yang dipublikasikan pada tahun 2021, sebagai contoh representatif bagaimana seniman generasi baru menegosiasikan kembali peran dan agensi tokoh perempuan dalam seni pertunjukan tradisional Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka, analisis teks, dan analisis visual untuk mengkaji perbedaan antara narasi epos Mahabharata dan bentuk adaptasinya dalam pertunjukan tersebut. Analisis difokuskan pada unsur-unsur narasi, dialog, <em>janturan</em>, dan ucapan dalang yang menunjukkan rekonstruksi nilai, baik yang memperkuat bias gender tradisional maupun yang menawarkan pembacaan baru yang lebih kritis terhadap ketidakadilan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian tradisi, tetapi juga sebagai ruang negosiasi etika. Melalui interpretasi kreatifnya, dalang perempuan mampu menghadirkan resistensi halus terhadap norma gender patriarkal, sekaligus memperlihatkan batas-batas kebebasan artistik ketika berhadapan dengan <em>pakem</em> tradisi. Temuan ini menunjukkan potensi wayang sebagai medium refleksi sosial dan transformasi nilai di era kontemporer.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to examine how modern Wayang Kulit performances reconstruct the narrative of Draupadi and to what extent artistic freedom is used to challenge or uphold traditional gender morality. The study focuses on a performance of Drupadi by the female dalang (puppeteer) Nyi Nia Dwi Raharjo, published in 2021, as a representative example of how a new generation of artists renegotiates the roles and agency of female characters in Javanese traditional performing arts. This research employs a literature review, textual analysis, and visual analysis to examine the differences between the epic Mahabharata narrative and its adapted form in this performance. The analysis focuses on narrative elements, dialogue, janturan (sung narration), and the dalang’s utterances that indicate a reconstruction of values, whether reinforcing traditional gender biases or offering a new, more critical reading of gender injustice. The results show that this performance not only functions as a preservation of tradition but also as a space for ethical negotiation. Through creative interpretation, the female dalang is able to present subtle resistance to patriarchal gender norms, while also revealing the limits of artistic freedom when confronted with the established conventions of tradition. These findings demonstrate the potential of wayang as a medium for social reflection and value transformation in the contemporary era.</em></p> <p> </p> You Ya Darmoko Mochamad Aviandy Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-12-24 2025-12-24 10 2 80 92 Faktor Kepemilikan Lahan terhadap Status Sosial Ekonomi Buruh Tani: Studi Kasus di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4191 <p>Penelitian ini mengkaji faktor kepemilikan lahan pertanian dalam menentukan status sosial ekonomi buruh tani di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Dengan menggunakan teori stratifikasi sosial Max Weber, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana ketimpangan kepemilikan lahan memengaruhi aspek ekonomi dan sosial masyarakat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil temuan menunjukkan bahwa buruh tani tanpa lahan menghadapi ketidakstabilan ekonomi serta akses terbatas terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Sementara pemilik lahan menikmati pendapatan yang stabil dan peluang sosial yang lebih baik. Penelitian ini menyoroti ketimpangan yang terus berlanjut akibat kepemilikan lahan dan memberikan rekomendasi perlunya kebijakan untuk mengurangi kesenjangan melalui pengelolaan lahan yang adil dan kebijakan sosial yang inklusif.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study examines the factor of agricultural land ownership in determining the socioeconomic status of farm laborers in Bulurejo Village, Purwoharjo District, Banyuwangi. Using Max Weber's social stratification theory, this research explores how disparities in land ownership affect the economic and social aspects of the community. The study employs a qualitative approach, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. The findings reveal that landless farm laborers face economic instability and limited access to education and healthcare services, while landowners enjoy stable incomes and better social opportunities. This study highlights persistent inequalities stemming from land ownership and recommends the need for policies to reduce disparities through fair land management and inclusive social policies.</em></p> <p><br /><br /></p> Eva Sandari Dyah Sulistyawati Pambudi Handoyo Arief Sudrajat Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-06-30 2025-06-30 10 2 45 57 Manifestasi Economic Statecraft China dalam Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4187 <p>Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) sebagai fenomena <em>economic statecraft</em> China dalam memperluas pengaruh politik luar negerinya melalui instrumen ekonomi. Menurut William J. Norris, ada tiga elemen utama yang menunjukkan adanya <em>economic statecraft</em>, yaitu: 1) Adanya niat politik dalam penggunaan alat ekonomi; 2) Kontrol negara atas aktor dan instrumen ekonomi; dan 3) Munculnya hasil strategis lintas negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yaitu menjelaskan fenomena <em>economic statecraft</em> melalui proyek KCJB. Data penelitian dihimpun melalui studi literatur dan analisis dokumen. Temuan penelitian menunjukkan bahwa proyek KCJB tidak sekadar kerja sama ekonomi, tetapi merupakan manifestasi dari kebijakan luar negeri yang disengaja. Pembiayaan oleh China Development Bank (CDB) dan pelaksanaan oleh China Railway Engineering Corporation (CREC) yang dikendalikan langsung oleh negara China, digunakan untuk memperluas pengaruh diplomatik serta menciptakan ketergantungan teknologis terhadap sistem China. Melalui proyek ini, China memperkuat posisinya di kawasan Asia Tenggara serta mengembangkan pola baru seperti diplomasi pembiayaan dan infrastruktur. Penelitian ini membuktikan bahwa instrumen ekonomi telah menjadi pola baru interaksi untuk menghasilkan pengaruh politik yang strategis, sekaligus membuka ruang pengembangan konsep baru dalam hubungan internasional kontemporer.</p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This research was conducted to analyze the Jakarta–Bandung High-Speed Rail (KCJB) project as a manifestation of China's economic statecraft in expanding its foreign political influence through economic instruments. According to William J. Norris, there are three main elements that indicate the presence of economic statecraft, namely: 1) The existence of political intent in the use of economic tools; 2) State control over economic actors and instruments; and </em><em>3) </em><em>The emergence of cross-border strategic outcomes. This study uses a qualitative approach with a case study method, which explains the phenomenon of economic statecraft through the KCJB project. Research data was collected through literature review and document analysis. The findings of this study indicate that the KCJB project is not merely an economic collaboration but rather a manifestation of deliberate foreign policy. Financing by the China Development Bank (CDB) and implementation by the state-controlled China Railway Engineering Corporation (CREC) were used to expand China's diplomatic influence and create technological dependence on Chinese systems. Through this project, China strengthens its position in Southeast Asia while advancing new models such as financing diplomacy and infrastructure diplomacy. This research demonstrates that economic instruments have become a new mode of interaction to generate strategic political influence, while also opening avenues for the development of new concepts in contemporary international relations.</em></p> Elvira Nuraini Emir Chairullah Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-07-11 2025-07-11 10 2 64 73 Pemetaan Konseptual Kajian Feminisme melalui Analisis Bibliometrik Visual terhadap Literatur Tahun 2015–2025 https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4177 <p>Penelitian ini bertujuan untuk memetakan struktur konseptual dalam kajian feminisme melalui pendekatan <em>bibliometric</em> visual. Data dikumpulkan dari <em>Google Scholar</em> menggunakan perangkat lunak <em>Publish or Perish</em>, dan dianalisis dengan <em>VOSviewer</em>. Sebanyak 1.000 artikel ilmiah dari tahun 2015 hingga 2025 dianalisis melalui tiga jenis visualisasi: <em>density</em>, <em>overlay</em>, dan <em>network</em>, untuk mengungkap kepadatan istilah, dinamika temporal, serta relasi antar topik dalam diskursus feminisme global. Hasil analisis menunjukkan bahwa <em>“second wave feminism”</em>, “<em>radical feminism”</em>, dan <em>“popular feminism”</em> merupakan fondasi utama dalam wacana feminisme kontemporer, yang masih kuat dipengaruhi oleh kerangka ideologis klasik. Namun, munculnya istilah-istilah baru seperti <em>“white feminism”</em>, “<em>transnational feminism”</em>, dan <em>“methodology”</em> mencerminkan transformasi diskursus ke arah yang lebih reflektif, interseksional, dan inklusif secara global. Klaster-klaster yang teridentifikasi dalam visualisasi jaringan memperlihatkan kompleksitas relasi antar konsep, mulai dari hubungan feminisme dengan media populer, kapitalisme, pendidikan, hingga epistemologi keilmuan. Temuan ini menegaskan bahwa kajian feminisme tidak hanya berkembang dalam jumlah tetapi juga mengalami pergeseran epistemologis menuju pendekatan transdisipliner dan kritis. Studi ini memberikan kontribusi dalam pemetaan intelektual feminisme dan membuka ruang bagi riset lanjutan yang lebih kontekstual, metodologis, dan berbasis data.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to map the conceptual structure of feminist scholarship through a visual bibliometric approach. Data were collected from Google Scholar using the Publish or Perish software and analyzed with VOSviewer. A total of 1,000 academic articles published between 2015 and 2025 were analyzed through three types of visualization density, overlay, and network to reveal keyword density, temporal dynamics, and thematic relationships within global feminist discourse. The analysis shows that “second wave feminism”, “radical feminism”, and “popular feminism” remain the foundational pillars of contemporary feminist thought, still strongly influenced by classical ideological frameworks. However, the emergence of newer terms such as “white feminism”, “transnational feminism”, and “methodology” indicates a shift toward a more reflective, intersectional, and globally inclusive discourse. The thematic clusters identified in the network visualization illustrate the complexity of interrelated concepts, including the intersections of feminism with popular media, capitalism, education, and epistemological inquiry. These findings suggest that feminist studies are not only expanding in volume but are also undergoing an epistemological shift toward more transdisciplinary and critical approaches. This study contributes to the intellectual mapping of feminism and opens new avenues for further research that is more contextual, methodological, and data-driven.</em></p> Hesti Ari Wardani Imam Yuadi Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-06-30 2025-06-30 10 2 24 32 Pentingnya Manajemen Privasi Komunikasi pada Aplikasi Bumble (Studi Kasus pada Tiga Pengguna dari Kalangan Gen-Z) https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4174 <p>Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penerapan manajemen privasi komunikasi dilakukan oleh pengguna aplikasi Bumble dari kalangan Generasi Z. Aplikasi kencan seperti Bumble menjadi ruang baru interaksi digital yang menuntut pengguna untuk secara aktif mengelola informasi pribadi dalam situasi komunikasi yang cair dan terbuka. Dalam konteks ini, manajemen privasi menjadi proses penting untuk menjaga batas-batas informasi personal yang dibagikan kepada orang lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis serta metode studi kasus terhadap tiga informan Gen Z yang aktif menggunakan aplikasi Bumble. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen privasi dilakukan melalui tiga strategi utama: pemilihan informasi yang ditampilkan di profil, selektivitas dalam merespons pesan, dan penyesuaian batas privasi sesuai tingkat kepercayaan terhadap lawan bicara. Namun demikian, ditemukan pula adanya celah dan ketidakkonsistenan dalam praktik manajemen privasi, yang dipengaruhi oleh persepsi subyektif terhadap rasa aman, keinginan untuk membangun kedekatan, serta minimnya literasi digital terhadap risiko privasi. Temuan ini memperkuat relevansi teori Communication Privacy Management (CPM) oleh Sandra Petronio yang mengenalkan lima prinsip, yaitu: owner, co-owner, boundary, rules dan turbulence, dalam konteks komunikasi digital dan menekankan pentingnya edukasi privasi di kalangan pengguna muda. Kontribusi penelitian ini menekankan pada pentingnya pengembangan pemahaman bagi Gen-Z dalam memaknai dan mengelola privasi dalam lingkungan digital yang cair dan terbuka.</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>This study aims to understand how the implementation of communication privacy management is carried out by Bumble application users from Generation Z. Dating apps such as Bumble are a new space for digital interaction that requires users to actively manage personal information in a fluid and open communication situation. In this context, privacy management is an important process to maintain the boundaries of personal information shared with others. This study uses a qualitative approach with a constructivist paradigm and case study methods for three Gen Z informants who actively use the Bumble application. The results of the study show that the implementation of privacy management is carried out through three main strategies: the selection of information displayed on the profile, selectivity in responding to messages, and the adjustment of privacy limits according to the level of trust in the interlocutor. However, it was also found that there were gaps and inconsistencies in privacy management practices, which were influenced by subjective perceptions of security, the desire to build closeness, and the lack of digital literacy on privacy risks. This finding strengthens the relevance of Sandra Petronio's Communication Privacy Management (CPM) theory, which introduces five principles: owner, co-owner, boundary, rules, and turbulence, in the context of digital communication and emphasizes the importance of privacy education among young users. The contribution of this research highlights the need to develop Gen-Z's understanding of defining and managing privacy in a fluid and open digital environment. </em></p> Cyntia Dewi Anggraini Divani Wiandari Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-06-30 2025-06-30 10 2 33 44 Adopsi dan Implementasi Pelayanan Publik Berbasis Digital pada Administrasi Kependudukan di Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4173 <p>Transformasi digital dalam pelayanan publik menjadi kebutuhan penting dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan, termasuk dalam pengurusan administrasi kependudukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pelayanan publik berbasis digital di Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang, dengan menerapkan teori adopsi inovasi (Rogers, 2003) dan teori implementasi kebijakan (Mazmanian &amp; Sabatier, 1983) sebagai perangkat analisis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi layanan telah meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas di wilayah tersebut. Masyarakat mulai menerima sistem baru, terutama kalangan muda yang terbiasa dengan teknologi. Namun, tantangan signifikan masih dihadapi, seperti rendahnya literasi digital, ketimpangan infrastruktur, dan terbatasnya kapasitas pelaksana di tingkat desa. Dari perspektif teori, adopsi teknologi belum mencapai tahap confirmation secara luas, dan struktur implementasi kebijakan masih memerlukan penguatan. Kesimpulannya, pelayanan publik digital di Kecamatan Paseh memiliki potensi besar untuk ditingkatkan melalui pendekatan yang kolaboratif, adaptif, dan berbasis kebutuhan masyarakat lokal. Rekomendasi strategis mencakup peningkatan literasi digital, pelatihan aparatur desa, serta pemerataan infrastruktur teknologi.</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p><em>Digital transformation in public services is an important need to improve the efficiency and quality of services, including in managing population administration. This study aims to analyze the implementation of digital-based public services in Paseh District, Sumedang Regency, by applying the innovation adoption theory (Rogers, 2003) and the policy implementation theory (Mazmanian &amp; Sabatier, 1983) as analytical frameworks. This study uses a descriptive qualitative method with in-depth interview techniques, field observations, and documentation studies. The results of the study indicate that digitalization of services has increased efficiency and accessibility in the area. The community has begun to accept the new system, especially young people who are familiar with technology. However, significant challenges are still faced, such as low digital literacy, infrastructure inequality, and limited capacity of implementers at the village level. From a theoretical perspective, technology adoption has not reached the stage of widespread confirmation, and the policy implementation structure still needs strengthening. In conclusion, digital public services in Paseh District have great potential to be improved through a collaborative, adaptive, and local community-based approach. Strategic recommendations include increasing digital literacy, training village officials, and equalizing technology infrastructure.</em></p> Aberar Guridno Jeanne Noveline Tedja Aiga Adawiyah Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-07-09 2025-07-09 10 2 58 63 Industri Jenang Kedunggudel sebagai Eduwisata di Desa Wisata Kreatif Kenep, Sukoharjo, Jawa Tengah https://journal.unas.ac.id/populis/article/view/4042 <p>Dusun Kedunggudel merupakan salah satu kampung di Desa Kenep, Sukoharjo yang memiliki berbagai daya tarik. Salah satu daya tarik tersebut kemudian dikembangkan oleh masyarakat sehingga terbentuk Desa Wisata Kreatif di tahun 2018. Berdirinya desa wisata ini tak lepas dari sejarah penyebaran Islam dan pusat perekonomian di wilah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan industri jenang Kedunggudel sebagai upaya pelestarian hidangan khas Kedunggudel dan sebagai penunjang ekonomi masyarakat di Desa Wisata Kreatif Kenep. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini melakukan pengumpulan data melalui wawancara dengan teknik snowball, yaitu teknik pengambilan sampel menggunakan informan pertama untuk mencari informan lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dusun Kedunggudel merupakan pusat perdagangan yang dibuktikan dengan lokasinya sungai di dekat Desa Kenep, (2) Jenang bukan berasal dari Kedunggudel, namun sebelumnya dibawa oleh para pedagang, (3) Masyarakat belajar membuat jenang hingga menjadikannya sebagai usaha karena melihat peluang ekonomi yang tinggi, (4) Penetapan sebagai Desa Wisata Edukasi berpotensi baik bagi pengembangan industri jenang dan bisa meningkatkan perekonomian, baik dalam segi pemasaran maupun penjualan.</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p><strong><em> </em></strong><em>Kedunggudel Hamlet is one of the villages in Kenep Village, Sukoharjo, which has various attractions. One of these attractions was then developed by the community, leading to the establishment of the Creative Tourism Village in 2018. The formation of this tourism village is closely tied to the history of Islamic propagation and the economic center in the region. This research was conducted to examine the development of the Kedunggudel jenang (traditional Javanese porridge) industry as an effort to preserve Kedunggudel's culinary heritage and support the local economy in the Kenep Creative Tourism Village. Using a qualitative approach, this study collected data through interviews using the snowball technique, a sampling method where initial informants help identify additional informants. The research findings indicate that: (1) Kedunggudel Hamlet was a trading hub, evidenced by its location near the river in Kenep Village, (2) Jenang did not originate from Kedunggudel but was introduced by traders, (3) The community learned to make jenang and turned it into a business due to its high economic potential, (4) Being designated as an Educational Tourism Village holds great potential for the development of the jenang industry and can boost the local economy, both in terms of marketing and sales.</em></p> <p> </p> Yayang Novita Tsania Fatihaturrahmah Tri Yuniyanto Jaga Insan Sahputra Hak Cipta (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2025-06-30 2025-06-30 10 2 15 23