Negara, Ulama, dan Masyarakat: Relasi Kuasa dalam Produksi Otoritas Keagamaan di Indonesia Kontemporer
DOI:
https://doi.org/10.47313/jkik.v9i2.4355Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dinamika hubungan kekuasaan antara negara, ulama, dan masyarakat dalam produksi otoritas keagamaan di Indonesia. Secara konseptual, penelitian ini menggunakan Teori Otoritas Keagamaan: Weber dan Foucault, dan relasi kuasa antara negara, ulama, dan masyarakat dalam sosiologi agama. Melalui pendekatan studi pustaka (literature review), dalam dua dekade terakhir, perubahan sosial akibat globalisasi, digitalisasi, dan transformasi politik telah menciptakan lanskap baru dalam otoritas keagamaan Islam. Dengan menelaah berbagai literatur akademik, tulisan ini mengidentifikasi tiga formasi otoritas utama ulama: negara, konservatif-independen, dan progresif. Otoritas ulama negara kerap dilembagakan melalui institusi resmi dan mendukung proyek Islam moderat sebagai bagian dari strategi kebijakan domestik. Sementara itu, Konservasi dan Revival Ulama menekankan pentingnya pemurnian ajaran dan resistensi terhadap nilai-nilai sekuler. Di sisi lain, ulama progresif mengadvokasi reinterpretasi ajaran Islam dalam kerangka keadilan sosial dan hak asasi manusia.
Kata Kunci : otoritas keagamaan, ulama, negara, media digital, relasi kuasa
Referensi
Afriansyah, A. (2021). Konstruksi, Kontestasi, Fragmentasi, dan Pluralisasi Otoritas Keagamaan Indonesia Kontemporer. Studia Islamika, 28(1), 227–244. https://doi.org/10.36712/sdi.v28i1.20514
Alfani, M., & Anwar, L. (2024). Kentekstualisasi Hadis dalam Era Digital: Retorika dan Otoritas Keagamaan Influencer Dakwah di Media Sosial. UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Keindonesiaan, 18(2), 83–103. https://doi.org/10.56943/ejmi.v1i2.9
Ali, F., & Effendy, B. (1986). Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. Mizan.
Asad, T. (1993). Genealogies of religion: Discipline and reasons of power in Christianity and Islam. Johns Hopins University Press.
Faridah, H. D. (2019). Halal certification in Indonesia; history, development, and implementation. Journal of Halal Product and Research, 2(2), 68. https://doi.org/10.20473/jhpr.vol.2-issue.2.68-78
Foucault, M. (1980). Power/Knowledge-Selected Interviews and Other Writings 1972-1977. Pantheon Books.
Hakim, L., & Mukhlis, Z. (2023). Otoritas Agama di Ruang Siber: Fragmentasi dan Kontestasi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 13(2), 119–132. https://doi.org/10.15642/jik.2023.13.2.119-132
Hamdani, A. R. (2021). Digital Fatwa: Kontestasi dan Fragmentasi Otoritas Keagamaan di Media Sosial [Tesis]. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Hidayatullah, R. (2024). Otoritas Keagamaan Digital: Pembentukan Otoritas Islam Baru di Ruang Digital. Ushuluna: Journal Ilmu Ushuluddin, 10(2), 1–16. https://doi.org/DOI: 10.15408/ushuluna.v10i02. 42831
Hudaeri, M. (2017). Relasi Kuasa Islam dan Negara Indonesia Modern. MIQOT, 41(2), 451–576.
Ikhwan, M., & Jamal, A. (2021). Diskursus Hukum Islam dalam Konteks Keindonesiaan: Memahami Kembali Nilai-Nilai Substantif Agama. Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam, 15(1), 173–186. https://doi.org/10.24090/mnh.v15i1.4689
Jannah, H. (2019). Pondok Pesantren sebagai Pusat Otoritas Ulama Madura. Jurnal Al-Hikmah, 17(2), 79–94. https://doi.org/10.35719/alhikmah.v17i1.9
Jinan, M. (2012). New Media dan Pergeseran Otoritas Keagamaan Islam di Indonesia. Jurnal Lektur Keagamaan, 10(1), 181–208.
Jinan, M. (2013). Intervensi New Media dan Impersonalisasi Otoritas Keagamaan di Indonesia. Jurnal Komunikasi Islam, 3(2), Article 2. https://doi.org/10.15642/jki.2013.3.2.321-348
Kementerian Agama RI. (2019). Moderasi Beragama. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
Kusumawardani, Hasriani, & satriawan, A. (2022). Media Digital dan Eksistensi Dakwah Masakini. Dalam Konten Syariat Islam Terhadap Film-Film Terbaik Indonesia. Penerbit Nusantara IAIN Parepare Press.
M, M. (2019). Strategi Nahdlatul Ulama dalam Mempertahankan Posisi dan Legitimasi di Arena Islam Indonesia. Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, 3(1), 41–58.
Muhammad, N. A. (2021). Populisme dan Dinamika Otoritas Keagamaan dalam Islam di Media Sosial. Jurnal Peurawi: Media Kajian Komunikasi Islam, 4(2), 113. https://doi.org/10.22373/jp.v4i2.10487
Muzakka, A. K. (2018). Otoritas Keagamaan Dan Fatwa Personal Di Indonesia. Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, 13(1), 63–88. https://doi.org/10.21274/epis.2018.13.1.63-88
Ni’am, Mohammad Fattahun. (2023). Menakar Kembali Otoritas Ulama: Antara Kesalehan dan Komodifikasi Agama. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, 8(2), 135–160. https://doi.org/10.14421/jkii.v8i2.1349
Rachmadhani, A. (2021). Otoritas Keagamaan di Era Media Baru: Dakwah Gus Mus di Media Sosial. Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat, 5(2), 150–169. https://doi.org/10.14421/panangkaran.v5i2.2636
Rahmatunnair, R. (2012). Paradigma Formalisasi Hukum Islam di Indonesia. AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah, 12(1). https://doi.org/10.15408/ajis.v12i1.984
Ramadhan, M. A., & Aziza, H. (2023). Moderasi Beragama Dalam Keberagaman di Indonesia. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 1(6), 159–177.
Rasyid, M. H. (2020). Ulama Di Persimpangan Jalan (Telaah Terhadap Peran Ulama dalam Kehidupan Politik di Indonesia). Ash-Shahabah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 6(1), 48–56.
Razak, Y., & Mundzir, I. (2019). Otoritas Agama Ulama Perempuan:Relevansi Pemikiran Nyai Masriyah Amva Terhadap Kesetaraan Jender Dan Pluralisme. PALASTREN Jurnal Studi Gender, 12(2), 397. https://doi.org/10.21043/palastren.v12i2.5981
Romario, R. (2022). New Media Dan Otoritas Keagamaan Baru: Analisis Wacana Konspirasi Rahmat Baequni (New Media And New Religious Authorities: An Analysis On Rahmat Baequni’s Conspiracy Discourse). Jurnal Sosiologi Reflektif, 16(2), 289. https://doi.org/10.14421/jsr.v16i2.2409
Rumadi. (2012). Islam dan Otoritas Keagamaan. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 20(1), 25–54. https://doi.org/10.21580/ws.20.1.183
Suhartini, R. (2021). Agama dan Masyarakat: Dalam Perspektif Sosiologi Agama. CV. Dimar Jaya.
Susanti, E. (2023). Pengaruh Budaya Populer di Kalangan Pemuda dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Budaya Komunitas Etnik (Studi Tentang Korean Wave di KomunitasSuku Mandar Provinsi Sulawesi Barat). Jurnal Ketahanan Nasional, 29(3).
Tantowi, A. Y. A. (2020). Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag) dalam Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.
Taufik, A., & Sopandi, R. (2021). Klasifikasi Tweet Influencer Nu Dengan Gnpf-Ulama Menggunakan Naive Bayes Dan Support Vector Machine. CERMIN: Jurnal Penelitian, 5(2), 258. https://doi.org/10.36841/cermin_unars.v5i2.1246
Taufik, M., & Taufik, A. (2020). Hijrah And Pop Culture: Hijab And Other Muslim Fashions Among Students In Lombok, West Nusa Tenggara. Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism, 8(2), 97–116. https://doi.org/10.21580/tos.v8i2.5305
Turner, B. S. (2007). Religious Authority and the New Media. SAGE Journals, 26(2), 128–132.
Weber, M. (1968). Theory of Social and Economic Organization. Oxford University Press.
Wibowo, S., Joebagio, H., & Bachri, S. (2018). Peran Majelis Ulama Indonesia Pada Masa Orde Baru 1975-1998 Dan Relevansinya Dalam Pembelajaran Sejarah. Jurnal CANDI, 17(1), 80–95.
##submission.downloads##
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License (CC BY-NC-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
