SASI SEBAGAI BUDAYA KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM DI KEPULAUAN MALUKU

Nadia Putri Rachma Persada, Fachruddin M Mangunjaya, Imran SL Tobing

Abstract


Sasi is an effort to conserve natural resources on land and sea by the indigenous people of Maluku. The practices are based on the knowledge of the community, sasi set the time or period when a resource can be harvested in order not to disrupt its life cycle. Sasi can be regarded as one of the local wisdom that can assist conservation efforts categorized by IUCN in criterion VI. There are two types of sasi which is managed by customs and sasi which is managed by religious institutution such as mosque and a church, where religious and adat leaders usually interrelated and cooperate. Sasi protects marine biota that has high economic value or the target market consumption and local communities. Sasi protect three common marine biota are lompa (Thryssa baelama), sea cucumber (Holothuroidea spp) and lola (Trochus niloticus). Sasi implement customary law and all the rules applied have good sanctions in the form of fines or sanctions that are supernatural or mystical. As an effort to conserve marine and fishery resources, sasi has a role from various aspects in terms of ecology, social culture and economy. Along with the development and modernization, sasi tradition challenges by some contstrains such as social and political dynamics.

Keywords


Sasi; Maluku; local wisdom; conservation; natural resources

Full Text:

PDF

References


Adhuri DS. 2004. How can traditional marine resource management support

a responsible fishery? Lessons learned from Maluku. Proceeding The

International Institute of Fisheries Economics & Trade (IIFET).

Jepang, 2004.

Asrul, Rindarjono MG, Sarwono. 2017. Eksistensi sasi dalam pengelolaan

lingkungan hidup dan peran serta masyarakat di negeri Haruku

kabupaten Maluku Tengah provinsi Maluku tahun 2013. Jurnal

EcoGeo Vol. 3 (1): 69-81.

Astika NST. 2016. Pelestarian sumber daya perikanan berdasarkan sistem

hukum adat sasi laut dan undang-undang perikanan RI. Skripsi.

Departemen Bagian Hukum Perdata. Universitas Hasanuddin.

Makassar.

Boli P, Yulianda F, Damar A et al. 2014. Benefits of sasi for conservation of

marine resources in Raja Ampat, Papua. Jurnal Manajemen Hutan

Tropika Vol. 2010 (2): 131-139.

Dudley, N. 2008 Guidelines for Applying Protected Area Management

Categories. Gland, Switzerland: IUCN- x + 86 p.

Damardjati KM, Kusrini T. 2015. Pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Departemen Kehutanan. 2008. Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam tentang penetapan kuota tangkap Lola Merah (Trochus niloticus) di provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, Sumatera Utara dan Bengkulu untuk periode tahun 2008. Jakarta.

Elfemi N. 2013. Sasi, kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya laut

(Kasus; Masyarakat suku Tanimbar di desa Adaut, kecamatan Selaru,

kabupaten Maluku Tenggara Barat). Jurnal Pelangi Vol 6 (1) : 23-30.

Ernawi IS. 2009. Kearifan lokal dalam perspektif penataan ruang. h. 6-18.

Dalam : Kearifan lokal dalam perencanaan dan perancangan kota

untuk mewujudkan arsitektur kota yang berkelanjutan. Edisi Pertama.

Group Konservasi Arsitektur dan Kota. Malang. Http://www.e-

journal.uajy.ac.id. diakses 20 April 2017.

Etlegar D. 2013. Peran lembaga adat sasi dalam pengelolaan sumberdaya

dusun di negeri Allang kecamatan Leihitu Barat, kabupaten Maluku

Tengah. Skripsi. Departemen Manajemen Hutan. Institut Pertanian

Bogor. Bogor.

Fadlun AA. 2006. Kajian yuridis terhadap sasi sebagai model konservasi

sumberdaya alam berbasis masyarakat di Maluku Tengah. Thesis. Sub

Program Hukum Pemerintahan Wilayah Kepulauan. Program Studi

Ilmu Hukum. Universitas Sam Ratulangi. Manado.

Farneubun TM. 2014. Etnobotani pangan dan obat masyarakat suku Kei

kampung adat Waur Kei Besar Maluku Tenggara. Skripsi.

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Institut

Pertanian Bogor. Bogor.

Hardin G. 1968. The tragedy of commons. Journal Science Vol. 162 (3869) :

-1248.

Https://www.nwf.org/Wildlife/Wildlife-Library/Invertebrates/Sea-

Cucumber.aspx. National Wildlife Federation. Sea Cucumber.

Diakses Tanggal 15 Juni 2017.

Http://www.wildsingapore.com/wildfacts/mollusca/gastropoda/trochidae/nilo

ticus.htm. WildSingapore. Giant top shell snail, Tectus niloticus.

Diakses Tanggal 1 Mei 2017.

Karepesina SS, Susilo E, Indrayani E. 2013. Eksistensi hukum adat dalam

melindungi pelestarian sasi ikan lompa di desa Haruku Kabupaten

Maluku Tengah. Jurnal ECSOFiM Vol. 1 (1) : 25-41.

Kusapy DL, Lay C, Kaho YR. 2005. Manajemen konflik dalam pemanfaatan

sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan hidup lewat pelaksanaan

hukum adat sasI. Jurnal Manusia dan Lingkungan, Vol. 12 (3) : 130-

Kusumadinata A. 2015. Peran komunikasi dalam menjaga kearifan lokal

(Studi kasus sasi di desa Ohoider Tawun, kabupaten Maluku

Tenggara). Jurnal Sosial Humaniora Vol. 6 (1) : 23-32.

Kuwati, Martosupono M, Mangimbulude JC. 2014. Konservasi berbasis

kearifan lokal (studi kasus: sasi di kabupaten Raja Ampat). h. A.19-

A.15. Prosiding Seminar Nasional Raja Ampat Waisai “Raja Ampat

and Future of Humanity (As A World Heritage)". Universitas Kristen

Satya Wacana. Waisai, 12 – 13 Agustus 2014

Latuconsina H. 2009. Eksistensi sasi laut dalam pengelolaan perikanan

berkelanjutan berbasis komunitas lokal di Maluku. Jurnal Manajemen

Sumberdaya Perairan TRITON Vol. 5 (1) : 63-71.

Leimena HEP, Subahar ST. 2006. Potensi reproduksi keong Lola (Trochus

niloticus) di pulau Saparua, Maluku Tengah. Jurnal Hayati Vol. 13 (2)

: 49-52.

Lestari E, Satria A. 2015. Peranan sistem sasi dalam menunjang pengelolaan

berkelanjutan pada kawasan konservasi perairan daerah Raja Ampat.

Buletin Ilmiah “MARINA” Sosek Kelautan dan Perikanan Vol. 1 (2) :

-76.

Lewerissa YA. 2009. Pengelolaan teripang berbasis sasi di negeri Porto dan

desa Warialau provinsi Maluku. Thesis. Sekolah Pasca Sarjana

Institut Pertanian Bogor.

Mainassy MC, Uktolseja JLA, Martosupono M. 2011. Pendugaan kandungan

beta karoten ikan Lompa (Thryssa baelama) di perairan pantai Apui,

Maluku Tengah. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) Vol.

(2) : 51-59.

Mangunjaya, F.M & A S Abbas. 2009. Khazanah Alam: Menggali Tradisi

Islam untuk Konservasi Alam. Yayasan Obor Indonesia

.

Mangunjaya,FM.& Joan Dinata. 2017. Ecosystem Faith-Based Protection in

Sumatra, Case Study for Minangkabau Tradition. In J.M.Mallarach et

al (Eds). Sacred Natural Sites with a Primary Focus on Islam.

Proceeding the Fourth Workshop of IUCN/WCPA Specialist Group

on Cultural and Spiritual Values of Protected Areas, held in the

Franciscan Retreat House of Porziuncola - Baħar iċ-Ċagħaq, in Malta,

-28 April 2017. Delos Initiative Proceeding (In Press)

Myers PR, Espinosa CS, Parr T et al. 2017. Thryssa baelama Hairfin

anchovy.

http://animaldiversity.org/accounts/Thryssa_baelama/classification/.

Diakses Tanggal 15 Maret 2017.

Myers, R.F., 1991. Micronesian reef fishes.

http://www.fishbase.org/summary/582. Ref. 1602. Diakses Tanggal

Maret 2017

Ohorella S, Suharjito D, Ichwandi I. 2011. Efektivitas kelembagaan lokal

dalam pengelolaan sumber daya hutan pada masyarakat Rumahkay di

Seram Bagian Barat, Maluku. Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol.

(2) : 49-55.

Patriana R, Adiwibowo S, Kinseng RA et al. 2016. Perubahan kelembagaan

dalam pengelolaan sumberdaya laut tradisional (Kasus kelembagaan

sasi di Kaimana. Jurnal Sosiologi Pedesaan Hal : 257-264.

Pattinama W, Pattipelony M. 2003. Upacara sasi ikan Lompa di negeri

Haruku. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Balai Kajian dan

Nilai Tradisional.

Randall JE. 1995. Taxonomic coordinator for families Acanthuridae,

Holocentridae, Microdesmidae, and Mullidae.

Http://www.fishbase.org. Diakses Tanggal 13 Maret 2017.

Republik Indonesia. 2007. Undang-undang nomor 27 tahun 2007 tentang

pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Jakarta.

Republik Indonesia. 2004. Undang-undang nomor 31 tahun 2004 tentang

perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor

Tahun 2009. Jakarta.

Republik Indonesia. 2004. Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang

pemerintahan daerah. Jakarta.

Republik Indonesia. 2009. Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Jakarta.

Sofyaun A. 2012. Analisis kelembagaan sasi dalam pengelolaan perikanan

tangkap di kecamatan Seram Timur. Skripsi. Departemen

Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Institut Pertanian Bogor.

Solihin A. 2010. Konservasi sumberdaya ikan berbasis kearifan lokal.

Kementerian Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Kelautan

Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, dan Direktorat Konservasi dan Jenis

Ikan.

Solihin A. 2011. Sasi teripang: Upaya konservasi dalam membangun desa

pesisir. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Pulau-pulau

Kecil. h. 33-40. ISBN: 978-602-98439-2-7.

Subair. 2015. Pengetahuan lokal dan pembangunan pedesaan: analisis ‘sasi’

dalam arus modernisasi. Makalah. Institut Agama Islam Negeri

Ambon.

Suhartini. 2009. Kajian kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan

sumberdaya alam dan lingkungan. Prosiding Seminar Nasional

Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA : B-206-B-218.

Yogyakarta, 16 Mei 2009.

Tuhumury, Frederik S. 2011. Analisis aspek bioekologi, sosekbud, hukum

dan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya siput Lola (Trochus

niloticus, Linn) di pesisir pulau Saparua, kecamatan Saparua,

kabupaten Maluku Tengah provinsi Maluku. Thesis. Universitas

Diponergoro. Semarang.

Ummanah. 2013. Sasi laut komunitas nelayan di Maluku Tenggara, provinsi

Maluku. Jurnal Ilmiah Pariwisata Vol. 18 (3).

Http://www.jurnalpariwisata.stptrisakti.ac.id .Diakses 12 Februari

Wekke IS. 2015. Sasi masjid dan adat: praktik konservasi lingkungan

masyarakat minoritas muslim Raja Ampat. Jurnal Al-Tahrir Vol. 15

(1) : 1-20.

Whitehead PJP. Nelson GJ. Wongratana T. 1988. Clupeoid fishes of the

world (Suborder Clupeoidei). An annotated and illustrated catalogue

of the herrings, sardines, pilchards, sprats, shads, anchovies and wolf-

herrings. FAO Fish. Ref. 189. http://www.fishbase.org/summary/582.

Diakses Tanggal 10 Maret 2017.

Zell H. 2011. Tectus niloticus.

https://en.wikipedia.org/wiki/Tectus_niloticus#/media. Diakses

Tanggal 1 Mei 2017.

Zulkarnain MS. 2007. Studi kebijakan sistem perizinan penangkapan ikan di

kecamatan pulau Haruku, kabupaten Maluku Tengah Maluku. Skripsi.

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Institut Pertanian

Bogor.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.