Makna Kidung Menurut Ulama Ahli Hikmah

Penulis

  • Dedi Cahyadi Universitas Nahdhatul Ulama Indonesia
  • Ayatullah Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
  • Ngatawi El Zastrow Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Kata Kunci:

filosofi, kidung, ulama, ahli hikmah , makna simbolik

Abstrak

Kidung merupakan karya sastra berbentuk nyanyian yang memiliki fungsi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana spiritual, doa maupun pemujaan. Kidung merupakan bagian dari kebudayaan Jawa dan memiliki pengaruh besar pada masa awal penyebaran agama Islam di Jawa. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan kidung yang di dalam baitnya dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kidung merupakan sarana dalam berdoa yang secara filosofi berarti iki dungo (ini doa). Para ulama ahli hikmah berpendapat bahwa kidung yang diciptakan para ulama terdahulu dalam pelaksanaan penyebaran agama Islam memiliki nuansa mistik yang sangat kuat karena setiap ciptaannya dibarengi dengan tirakat atau mujahadah yang bertujuan siapapun yang mendengarkan kidung ciptaannya menjadi lembut dan luluh hatinya sehingga mudah menerima ajaran-ajaran Islam yang dibawanya.

Abstract

Kidung is a literary work in the form of a song that serves not only as entertainment but also as a means for spiritual practice, prayer, or worship. Kidung is part of Javanese culture and played a significant influence during the early spread of Islam in Java. This research was conducted to explain the kidung, whose verses are believed to possess spiritual power. The study employs a qualitative method with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and literature review. The results show that kidung serves as a medium for prayer, which philosophically means iki dungo (this is a prayer). Scholars of esoteric wisdom argue that the kidung created by earlier Islamic scholars during the propagation of Islam carry a very strong mystical nuance. This is because each creation was accompanied by tirakat (ascetic discipline) or mujahadah (spiritual struggle), intended so that anyone listening to their kidung would have their heart softened and melted, making it easier for them to accept the Islamic teachings being conveyed.

Referensi

A’la, R. (2024). Wawancara melalui telepon hari rabu tanggal 4 desember 2024 pukul 6.30 WIB

Abdillah, M. H. (2022). Peradaban Islam Nusantara, C-Klik Media, hal. 7C.C.

Adua, S. S. (2015). The Relevance Of Du’a (Supplication) As a Weapon To National Security. European Journal of Research and Reflection in Arts and Humanities, Vol.3 No.3, hal. 60.

Ahmadi, E. (2023). Wawancara tanggal 10 September 2023 pukul 13.20 Di Pondok Pesantren Tegalwangi Cirebon

Berg, C. C. (1955). The Islamisation Of Java. Studia Islamica, No. 4, hal. 8

Bruinessen, M. V. (1998). Studies Of Sufism And Sufi Orders In Indonesia. Die Welt des Islams, New Series, Vol. 38, Issue 2, hal. 204.

Cahyadi, D. (2023). Filosofi Bismillah Sungsang Dalam Prespektif Dakwah Sufistik Di Pondok Pesantren Tegalwangi Cirebon, Magister Tesis - Universitas Nahdhatul Ulama Indonesia, hal. 1.

Endraswara, S. (2022). Agama Jawa. (Jakarta: Narasi) hal. 49.

Johari, S. (2023). The Ramayana: An Epic of Indian Ideals and Dharma, Creative Saplings, Vol. 01, Issue 11.

Kabir, dan Ajani, T. (2020). An Exposition Into The Role Of Du’a (Supplication) In Da‘Wah Programmes (Proselytization). Ulum Islamiyyah Journal, Vol.30, hal. 2.

Koentjaraningrat (1004), Kebudayaan Jawa (Jakarta: Balai Pustaka).

Kosasih, R. A. (1975) Ramayana (Erlina: Bandung) hal. 561.

Mayadah, U. (2020). Positivisme Auguste Comte. Paradigma: Jurnal kalam Dan Filsafat, Vol.2, No.1, hal.141.

Mulyatno, C. B. (2021). The Spirituality of Kawruh Begja to Achieving the Reality of Life According to Ki Ageng Suryamentaram. Budapest International Research And Critics Institutes- Journal (BIRCI-Journal), Vol 4, hal. 8028.

Ngatawi (2020). Analisa Sosiologis Ajaran Ki Ageng Surya Mentaram Dan Amanat Galunggung. Unusia: Jurnal Islam Nusantara.

Pigeaud, T. G. dan De Graafh, H. J. (1976). Islamic Stets In Java 1500 – 1700, The Hague Martinus, hal. 8.

Saepudin, A. (2024). Wawancara melalui telepon hari rabu tanggal 4 desember 2024 pukul 20.07 WIB.

Sawitri, Priyatiningsih, N., Deswijaya, R. A., dan Sutarman (2020). The philosophy of life in Javanese language as an education and perspective on the life of the Javanese community. IJO – International Journal Education, Vol.3, hal.67.

Sheriff, V. F. (2019). Significance of Du’a in Facilitating Healing Process: An Overview from Islamic Thought. South Asian Res J Human Soc. Sci., Vol. 1, Issue 2, hal.54.

Sholikhati, S. (2017). Simbol Keagamaan dalam Islam Dan Ideologi Televisi. Islamic Comunication Journal, Vol. 02, Nomor 02, hal.127.

Turner, B. S. (1983). Religion and Social Theory: A Materialist Perspective. (London: Heinemann Educational Books).

Wadiyo W., Haryono, S., dan Wiyoso, J. (2022). Tradisional Javanesse Songs The Supporting Aspects Of Its Existence In The Local Society. Journal of Urban Culture Research, Vol.24, hal.163.

Yahya, M. dan Handayani, W. R. (2023). Tembang Jawa Dalam Budaya Populer: Analisis Isi Kidung Jawa Modern Sindy Purbawati. Journal Kajian Linguistik Dan Sastra UGM, hal. 86.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2025-12-24

Terbitan

Bagian

Articles