Rekonstruksi Narasi dan Negosiasi Gender oleh Dalang Perempuan Nyi Nia Dwi Raharjo dalam Pertunjukan Wayang Kulit Drupadi
Kata Kunci:
Wayang Indonesia, Drupadi, Etika Gender, Analisis Pertunjukan, Dalang Perempuan.Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana pertunjukan Wayang Kulit modern merekonstruksi narasi Drupadi serta sejauh mana kebebasan artistik digunakan untuk menantang atau mempertahankan moralitas gender tradisional. Studi ini berfokus pada pertunjukan Drupadi oleh dalang perempuan Nyi Nia Dwi Raharjo yang dipublikasikan pada tahun 2021, sebagai contoh representatif bagaimana seniman generasi baru menegosiasikan kembali peran dan agensi tokoh perempuan dalam seni pertunjukan tradisional Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka, analisis teks, dan analisis visual untuk mengkaji perbedaan antara narasi epos Mahabharata dan bentuk adaptasinya dalam pertunjukan tersebut. Analisis difokuskan pada unsur-unsur narasi, dialog, janturan, dan ucapan dalang yang menunjukkan rekonstruksi nilai, baik yang memperkuat bias gender tradisional maupun yang menawarkan pembacaan baru yang lebih kritis terhadap ketidakadilan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian tradisi, tetapi juga sebagai ruang negosiasi etika. Melalui interpretasi kreatifnya, dalang perempuan mampu menghadirkan resistensi halus terhadap norma gender patriarkal, sekaligus memperlihatkan batas-batas kebebasan artistik ketika berhadapan dengan pakem tradisi. Temuan ini menunjukkan potensi wayang sebagai medium refleksi sosial dan transformasi nilai di era kontemporer.
Abstract
This study aims to examine how modern Wayang Kulit performances reconstruct the narrative of Draupadi and to what extent artistic freedom is used to challenge or uphold traditional gender morality. The study focuses on a performance of Drupadi by the female dalang (puppeteer) Nyi Nia Dwi Raharjo, published in 2021, as a representative example of how a new generation of artists renegotiates the roles and agency of female characters in Javanese traditional performing arts. This research employs a literature review, textual analysis, and visual analysis to examine the differences between the epic Mahabharata narrative and its adapted form in this performance. The analysis focuses on narrative elements, dialogue, janturan (sung narration), and the dalang’s utterances that indicate a reconstruction of values, whether reinforcing traditional gender biases or offering a new, more critical reading of gender injustice. The results show that this performance not only functions as a preservation of tradition but also as a space for ethical negotiation. Through creative interpretation, the female dalang is able to present subtle resistance to patriarchal gender norms, while also revealing the limits of artistic freedom when confronted with the established conventions of tradition. These findings demonstrate the potential of wayang as a medium for social reflection and value transformation in the contemporary era.
Referensi
Almira, A., & Aviandy, M. (2022). Representasi Difabel Di Rusia Dalam Film Corrections Class (Klass Korrektsii) Karya Ivan Tverdovsky. Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, 6(1), 49-68.
Anggoro, B. (2018). “Wayang dan Seni Pertunjukan” Kajian Sejarah Perkembangan Seni Wayang di Tanah Jawa sebagai Seni Pertunjukan dan Dakwah. JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam), 2(2), 257-268.
ARDIANI, S. M. (2019). Panggung dalang perempuan wayang kulit purwa: Analisis gender atas Nyi Arum Asmarani. Martabat, 3(1), 1-22.
Ariani, I. (2016). Feminisme dalam pergelaran wayang kulit purwa tokoh dewi shinta, dewi kunti, dewi srikandi. Jurnal Demo, 26(2), 272-290.
Hall, S., Evans, J., & Nixon, S. (2024). Representation: Cultural representations and signifying practices.
Hutcheon, L. (2006). A theory of adaptation. Routledge.
Ramonita, L., Setiawan, J. H., Sukandar, R., & Aruman, E. (2023). Pemberdayaan perempuan dalam pertunjukan wayang kulit: Upaya penyetaraan gender oleh dalang perempuan. Jurnal Komunikasi Pembangunan, 21(01), 45-58.
Sulastri, S. (2019). Falsafah Hidup Perempuan Jawa. Sanjiwani: Jurnal Filsafat, 10(1), 91-100.
Turner, G., & Duckham, M. F. (2006). Film as social practice. Routledge.
Wibawa, A. B. (2024). Analyzing the Evolution of Indonesian Wayang Puppetry and Its Fusion with Modern Theater and Performance Arts. Studies in Art and Architecture, 3(1), 1-9.
##submission.downloads##
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
Pemberitahuan Hak Cipta
- Hak publikasi atas semua materi informasi yang tercantum dalam situs jurnal ini dipegang oleh dewan redaksi/editor dengan sepengetahuan penulis. Pengelola Jurnal akan menjunjung tinggi hak moral penulis.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan lisensi Creative Commons Atribusi-NonCommercial-No Derivative (CC BY-NC-ND), yang berarti bahwa hanya dengan izin penulis, informasi dan artikel Jurnal BACA dapat didistribusikan ke pihak lain dengan tanpa merubah bentuk aslinya untuk tujuan non-komersial.
- Setiap terbitan Populis Jurnal Sosial dan Humaniora, baik cetak maupun elektronik, bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, penerbit atau pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pembaca atau pengakses.