Dekolonisasi Citra Nyai: Representasi Perempuan Dalam Sistem Kolonial Dan Feodal Hindia Belanda Pada Tokoh Nyai Ontosoroh
DOI:
https://doi.org/10.47313/pujangga.v11i2.4334Keywords:
Bumi Manusia, feminisme postkolonial, Nyai Ontosoroh, interseksionalitas, kolonialisme, , patriarkiAbstract
Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer menghadirkan realitas sosial pada era Hindia Belanda, ketika sistem kolonial dan feodalisme Jawa menimbulkan ketimpangan gender dan kelas. Sebutan “Nyai” dilekatkan dengan stereotip negative, seperti rendahnya pendidikan, materialisme, pengkhianatan terhadap bangsa, serta dianggap melanggar norma agama dan sosial. Namun, Nyai Ontosoroh dalam novel ini justru ditampilkan sebagai sosok perempuan pribumi yang cerdas, dan terdidik, sekaligus menantang konstruksi stereotip kolonial. Tujuan penelitian untuk menganalisis representasi identitas dan strategi perlawanan tokoh Nyai Ontosoroh terhadap dominasi kolonial dan patriarki dengan menekankan dimensi interseksionalitas gender, ras, dan kelas. Penelitian menggunakan teori feminisme postkolonial Spivak, Mohanty dan Crenshaw dengan metode deskriptif kualitatif melalui analisis naratif terhadap teks sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyai Ontosoroh direpresentasikan sebagai perempuan yang melampaui konstruksi sosial kolonial. Ia mengunakan pengetahuan dan bahasa kolonial Belanda sebagai strategi resistensi, meskipun tetap terikat batas hukum dan norma kolonial feodal. Pramoedya melalui tokoh Nyai Ontosoroh tidak hanya menampilkan perlawanan terhadap sistem penindasan, tetapi juga melakukan dekonstruksi terhadap citra Nyai sebagai simbol subordinasi. Temuan ini memperluas pembacaan feminisme dalam sastra kolonial Indonesia melalui perspektif interseksional dan naratif.
References
Blusse, L. (2004). Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC. Yogyakarta: LKiS.
Christanty, L. (1994). Nyai dan Masyarakat Kolonial Hindia Belanda. Prisma No 10/XXIII.
Crenshaw, K. (1991). Mapping the Margins: Intersectionality, Identity Politics, and Violence against Women of Color. Stanford Law Review, Vol. 43.
Darmarastri, H. A. (2002). Keberadaan Nyai di Batavia”, . Lembaran Sejarah Vol.4. No.2. .
Hardiningtyas, P. R. (2015). Manusia dan budaya Jawa dalam roman Bumi Manusia: Eksistensialisme pemikiran Jean-Paul Sartre. Aksara, 83-98.
Hastuti, N. (2018). Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer: Kajian sosiologi sastra. Humanika, 25(1), 64-74.
Mohanty, C. T. (2003). Feminism Without Borders. Durham: Duke University Press.
Muniroh, L. M. (2023). Peranan Nyai dalam akulturasi budaya Jawa-Belanda tahun 1870-1942. Candi: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah, 50-75.
Pranasa, R. K. (2023). Analisis Wacana Kritis Fairclough Sosok "Nyai" Dalam Novel Bumi Manusia. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.
Ratna, N. K. (2015). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Said, E. (1978). Orientalism. New York: Pantheon Books.
Satria, A. (2015). Pergundikan dan identitas Nyai dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer: Kajian postkolonial Homi Bhabha. Yogyakarta: FBS UKSW.
Setiowati, L. (2024). Kesadaran politik dan perlawanan antikolonial dalam tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh pada novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Jakarta: Universitas Airlangga.
Spivak, G. C. (1988). Can the Subaltern Speak? London: Macmillan.
Toer, P. A. (2006). Bumi Manusia. Jakarta: Lenter Dipantara.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Fairuz Fairuz

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.


