Membaca Ulang Identitas Indonesia Melalui Persepktif Pascakolonial Dalam Para Priyayi Karya Umar Kayam Dan Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan
DOI:
https://doi.org/10.47313/pujangga.v11i2.4343Keywords:
Pascakolonialisme, Hibriditas, Identitas, Sastra Indonesia, Umar Kayam, Eka KurniawanAbstract
Penelitian ini mengkaji dimensi pascakolonial dalam pembentukan identitas dan transformasi budaya Indonesia sebagaimana direpresentasikan dalam Para Priyayi karya Umar Kayam dan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri bagaimana kedua novel tersebut menggambarkan pengaruh kolonialisme yang masih membekas terhadap struktur sosial, pembentukan identitas, dan nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia pascakemerdekaan. Analisis penelitian ini berlandaskan pada teori pascakolonial, khususnya konsep hibriditas dan mimikri dari Homi K. Bhabha serta psikologi kolonial dari Frantz Fanon. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang didukung oleh analisis tekstual, penelitian ini menelaah bagaimana ideologi kolonial diinternalisasi, dilawan, dan ditafsirkan kembali melalui struktur naratif, penggambaran tokoh, serta representasi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Para Priyayi menggambarkan keberlanjutan mentalitas kolonial di kalangan elite Jawa yang masih mereproduksi hierarki sosial kolonial dalam masyarakat pascakemerdekaan, mencerminkan proses dekolonisasi yang belum sepenuhnya tuntas. Sebaliknya, Cantik Itu Luka menyingkap luka mendalam akibat kekerasan kolonial dan munculnya identitas hibrid yang lahir dari trauma sejarah, dengan memanfaatkan gaya realisme magis untuk mengkritik sistem kolonial sekaligus patriarkal. Kedua novel tersebut memperlihatkan bahwa sastra pascakolonial Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai bentuk perlawanan budaya, tetapi juga sebagai ruang rekonstruksi identitas nasional dan kesadaran historis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa narasi pascakolonial dalam sastra Indonesia merefleksikan proses negosiasi yang berkelanjutan antara tradisi, modernitas, dan ingatan kolektif, sekaligus menegaskan pentingnya dekolonisasi imajinasi kultural dan struktur sosial.
References
Ashcroft, B., Griffiths, G., & Tiffin, H. (2003). The empire writes back: Theory and practice in post-colonial literatures: 2nd edition. In The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-Colonial Literatures: 2nd Edition. https://doi.org/10.4324/9780203426081
Ashcroft, B., Griffiths, G., & Tiffin, H. (2007). Post-colonial studies: The key concepts. In Post- Colonial Studies: The Key Concepts. https://doi.org/10.4324/978023777855
Arwa, Awan. The Work of Decolonization: Fanon and the Post-colonial Predicament.
Washington: POMEPS
https://pomeps.org/the-work-of-decolonization-fanon-and-the-post-colonial- predicament
Barry, Peter. 1995. Beginning Theory. An Introduction to Literary and Cultural Theory. Manchester : Manchester University Press.
Bhabha, H. K. 2004. The Location of Culture. In Routledge. Routledge 2 Park Square, Milton Park, Abingdon, Oxon, OX14 4RN 711 Third Avenue, New York, NY 10017 Routledge.
Fanon, Frantz. 1967. Black Skin White Masks (Translated by Charles Lam Markmann), Pluto Press
Fokkema, D.W. and Kunne-Ibsch, Elrud. Theories of Literature in the Twentieth Century. London:
C. Hurts & Company. Terjemahan oleh J. Praptadiharja & Kepler Silaban. 1998. Teori Sastra Abas Kedua Puluh. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Kayam, Umar. 1993. Para Priyayi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Kurniawan, Eka. 2015. Cantik Itu Luka. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Loomba, A. (2015). Colonialism/postcolonialism(Third Edit). Routledge 2 Park Square,
Milton Park, Abingdon, Oxon OX14 4RN and by Routledge 711 Third Avenue,
New York, NY 10017 Routledge.
Moleong, Lexi J., 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies. Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rutherford, J. (1990). “The third space : Interview with Homi K Bhabha” identity, community, culture, difference. London: Lawrence and Wizhart. https://doi.org/10.4324/9780203855935-11.
Said, Edward W. 1993. Culture and Imperialism. London : Chatto & Windus. Ltd. Terjemahan oleh Rahmani Astuti. 1996. Kebudayaan dan Kekuasaan. Bandung: Mizan.
Sugiyono, 2017, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. cet 26. Bandung: Alfabeta. Sutrisno, Mudji, dan Putranto, Hendar (editor). 2004. Hermeneutika Pascakolonial. Soal
Identitas. Yogyakarta : Kanisius.
Young, R. J. C. (1996). Colonial desire: Hybridity in theory, culture and race. In 2th Edition (Ed.), Journal of Rural Studies(Vol. 12, Issue 3). Taylor & Francis e- Library, 2005.
https://doi.org/10.1016/0743-0167(96)82240-6
Young, R. J. C. (2003). Postcolonialism: A Very Short Introduction. In Postcolonialism: A Very Short Introduction. https://doi.org/10.1093/actrade/9780198856832.001.0001
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Nyoman Elly Swandayani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.


